Rabu, 04 Oktober 2017

SUNSET & THE FLYING KITES



Staring at sunset makes me tranquil and gives me time to contemplate. This moment is such a reminder that everything has an end, that our bright life might end with the darkness of mortality, that everyone will face death and we'll be 'the departed' surely. Isn't it so beautiful, the way God gives us a sunset to end our days? Yet, I ask myself: "Will someday I have a beautiful end like this?" An end which let me close my eyes in peace and smile with no worries.
.
And watching those kites floating in the sky makes me recall what Forrest says. "I don't know if we each have a destiny, or if we're all just floating around accidentally on a breeze. But I think, maybe it's both. Maybe both happens at the same time." — Forrest Gump (1994)
.
📌 Loc: Alun-Alun Kidul

            

Senin, 14 Agustus 2017

Pre Order PETRICHOR by Pluviophile


Sebenarnya agak malu mau promo buku sendiri. I was not really confident to know that people read one of mine. Sebab saya menyadari bahwa cerpen yang saya tulis & termuat di buku ini masih jauh dari tulisan yang berkualitas, baik dari segi estetika maupun ide cerita. Masih perlu banyak kritik saran untuk perbaikan & banyak latihan untuk pembiasaan.
.
Tapi dalam buku ini tidak hanya ada tulisan cupu saya. Ada tulisan-tulisan buah karya beberapa penulis lain yang lebih senior dan lebih expert dalam menyampaikan cerita secara indah & sarat makna serta enak dibaca. Maka insyaAllah, tak ada rugi jika kalian membeli & membacanya.
.
Sebagaimana judulnya "PETRICHOR" adalah sekumpulan karya tentang hujan yang kami himpun bersama @squadpluviophile (@lianpriyono, @bagusadisatya, @irkhammaulana1, @hennyalifah, @kanadiea, @abenanza). Di dalamnya ada tulisan berupa cerita pendek, sajak, & puisi, serta ilustrasi. Kami membuka pre-order gelombang pertama sampai 22 Agustus 2017. Harga khusus selama PO hanya Rp 38.000,-. Harga normal Rp 42.000,- Khusus area Jogja, Surabaya, Treanggalek, Malang, & Tulungagung bisa COD. Hubungi CP yang tertera pada poster untuk pemesanan, ongkos kirim, COD, & info selengkapnya.

Semoga bermanfaat! ^_^

Selasa, 25 April 2017

MAJID DI MASJID

   

        "Maling... Maling... Maliiing!"
     Teriak warga berlarian mengejar si tangan panjang. Kencang benar ia. Para warga kewalahan menangkapnya.

      Majid namanya. Pencuri, pencopet, penguntit, penjambret paling profesional di kelompoknya. Dia tak pernah gagal di tiap aksinya. Tidak juga satu atau dua bogem dari warga mendarat di kedua pipinya. Dinginnya bui seperti ujar kawan-kawannya pun tak sekalipun dialaminya. Dialah Majid, kriminal kelas wahid.

     "Wah... Kemana dia?" warga bertanya-tanya.
     "Sudah lolos mungkin saja. Larinya sudah seperti singa," timpal warga lain sembari terengah.
     "Bubar... Bubar... Bilang saja pada si renta itu agar mengikhlaskan. Toh kita tak mungkin mengejar maling seharian. Bubar!" Sergah seorang paruh baya dengan kasar. Mungkin, ia kesal karena gagal.

     Warga berhamburan bubar. Sebagian kembali ke titik awal. Seorang nenek renta tersedu dikelilingi ibu-ibu. Hatinya lebih pilu, dalam tasnya ada uang saku yang ia simpan untuk si cucu. Sejam kemudian, situasi tenang. Cerita sang nenek kemalingan...terlupakan.

     "Berhasil lagi?! Majid, kau memang maling nomor wahid!" puji gerombolan Majid takjub sekaligus bangga.
     Majid hanya menyunggingkan sedikit senyum angkuh sambil menyeka peluh.
     "Kalian ingin tahu selama ini di mana aku sembunyi dari keroyokan massa?" tanya Majid yang hendak membuka rahasia.
     Gerombolannya hanya mengangguk-angguk kepala sambil melotot ke arahnya. Sejak lama mereka menanti Majid angkat bicara tentang kunci keberhasilannya.
     "Di masjid," jawabnya singkat.
     "Kau gila?! Mana mungkin bisa?!" anak buahnya ternganga.

     Majid menjawab santai sambil menghisap cerutunya, "Mudah saja. Di desa itu masjid sepi. Yang nyabanin jarang sekali. Bahkan saat adzan berkumandang, jamaah masjid itu hanya 2-3 orang. Hahaha... Waktu beraksi yang tepat justru ketika jam shalat. Saat 2-3 orang itu sedang khidmat, mereka tak menyadari aku sembunyi di balik almari. Warga pun tak mungkin mencari ke sana & mengira tak mungkin aku berani masuk rumah Tuhan-Nya. Ah... Heran aku pada mereka. Mengapa mereka yang lebih 'suci' dari kita justru enggan masuk sana."

for storialpicstorychallenge
This entry was posted in

Jumat, 21 April 2017

AKU (BUKAN) KARTINI


Bukan, Tuan!
Saya bukan Kartini
Saya adalah saya sendiri

Tidak, Tuan!
Saya tak hendak menyangkal sejarah
Terakuilah Kartini nan dikisahkan dengan megah
Sebagai simbol puan penggugah

Ya, Tuan!
Memang saya pun puan
Namun tak hendak disama-samakan
Beliaulah beliau adanya
Saya adalah saya saja

Dengar, Tuan!
Kartini dan saya hidup di beda zaman
Pun kami berbeda azam
Saya tak lagi menuntut setara
Sebab para puan kini melebihi Tuan pun bisa
Bahkan yang melampaui kodratnya pun ada
Bukan itu, Tuan!
Saya hanya puan jelata tanpa tahta
Mana kuasa mengubah segala-gala sepertinya
Saya hanya puan yang mengubah diri sendiri saja
Setengah mati susahnya

Maka dari itu, Tuan!
Saya hanya hendak menyampaikan pinta
Pada sesama puan seperti saya
Agar tak henti mendalami sebanyak-banyak ilmu
Agar tak membeo kejahilan akhir masa
Agar menyadari kecantikan dirinya
bukan dari bersolek rupa
melainkan salim nuraninya

©DwisRiyuka | 20170421
This entry was posted in

Rabu, 22 Februari 2017

DEL: Talk is Cheap


Pernah dengar lagunya Secondhand Serenade yang "Fall for You"?? Kalau kamu dengerin lagu itu, pasti bakal nemu frasa "talk is cheap" di liriknya. Apasih itu artinya??

TALK IS CHEAP bukan berarti ngomong itu murah. Kata murah di sini bermakna konotatif alias kiasan aja. Berdasarkan konteksnya, kata cheap menjadikan kaliamat itu bermakna "ngomong tuh gampang". Menurutku sih logikanya biar paham nih, sesuatu yang murah kan mudah didapat atau dibeli. Make sense lah ya, hahaha. 

Intinya, talk is cheap itu ungkapan yang artinya mudah bicara seolah akan melakukannya tapi realisasinya belum tentu semudah itu. Ungkapan ini biasanya diucap sebagai respon kalau ada orang berjanji dan kita merasa gak percaya kalau orang itu bakal nepatin janjinya; atau ketika seseorang meremehkan sesuatu seolah apabila dia yang melakukannya dia pasti bisa. 

Contoh konteks 1
Danny   : "Hey sweetheart, are you still angry?"
Jill        : (keep silent)
Danny   : "Come on! Okay, I promise I will take you to a-week-trip in Hawaii next holiday. I will ask for some day off."
Jill        : "Talk is cheap. I bet you will break your promise again and say that your work is getting hectic"

Contoh konteks 2
Henry   : "Lisa, why can't you handle it? It's just something simple to do and you mess it up."
Lisa      : "Talk is cheap, Henry. Try doing it by yourself."

Nah gimana? Gampang kan? Sekarang kamu bisa praktekin di percakapan sehari-harimu...

Rabu, 08 Februari 2017

(BUKAN) KAMUS BERJALAN

Sumber: Pinterest
"Tring!" Sebuah pesan masuk. Lalu diikuti beberapa pesan lain. Isinya adalah kiriman foto atau screenshoot sebuah teks 1 halaman yang diikuti pesan "Mbak, bahasa Inggrisnya apa?" Kadang juga ada pesan copy-paste 1 paragraf lebih yang disusul kalimat "Dwis, bahasa Inggrisin dong!" Bahkan pernah juga mengirimi soal-soal bahasa Inggris dengan bubuhan pesan "Mbak, tolong bantuin ngerjain ya. Itu nomer 23-30 jawabannya apa?"

Umumnya jawaban andalanku:
"You try first." 
"Coba kalau menurutmu gimana dulu?"
"Kirim versimu? Nanti coba ta koreksi kalau ada yang kurang tepat."
"Yang perlu dijelasin atau belum bisa yang bagian mana?"

Ada yang kemudian balas lagi "Okay deh ta coba dulu ya, nanti benerin." Ada pula yang balas "Ayolah... aku nggak bisa." atau "Duh nggak bisa semua, makanya nanya."

Well, saya sudah gemes pingin nulis uneg-uneg ini dari dulu. Dan serius deh aku nggak bisa nulis ini dengan versi santun mendayu-dayu. Kayaknya memang harus kutulis lugas.

Entah pengalaman begini memang dialami sama semua anak jurusan bahasa sastra Inggris, pendidikan Inggris, de el el yang berbau-bau Inggris) atau nggak. Bukannya nggak mau bantu ya tapi aku (mungkin juga mewakili anak bahasa Inggris yang lain) paling geregetan kalau pada nanya bukan karena mau belajar tapi emang karena males. Keliatan kaleee. Pesan-pesan itu dari segi bahasa pun kesannya maksa, nyuruh, bukan minta tolong. Beneran deh aku pun jadi malas meladeni sebenarnya, karena aku juga sedang melakukan kesibukanku. Dipikir gampang dan cepet apa nerjemahin segitu. Nggak tahu sih karena ada sisi perfeksionis atau gimana, aku selalu butuh ngecek bener nggaknya beberapa istilah melalui aplikasi kamus Cambridge. Atau setidaknya utak-atik kalimat terjemahannya biar lebih sesuai konteks dan bahasa. Apalagi kalau memang teksnya bertema bidang khusus ya aku juga harus nyari vocab yang nggak kuhafal. Aku bukan orang Inggris asli, juga bukan orang dengan IQ super tinggi, jadi aku nggak hafal jutaan vocab di kamus ya. Bahasa Indonesia aja ada kosakata yang nggak kutahu dan hafal. Lagipula, sebagai anak Bahasa Inggris tentu aku punya tuntutan (sekaligus beban) moral buat ngasi terjemahan yang bener, tuntutannya yang lebih gede daripada anak jurusan lain tapi pinter bahasa Inggris. Kalau salah, kurang tepat, terdengar aneh, toh pasti pada protes kan?? 

Jadi please, tolong, kumohoooon, jangan jadikan aku kamus berjalan andalan kalau kalian lagi mendadak butuh tapi males nerjemahin (ya keleus bagian yang kalimat sederhana "Saya berpikir bahwa...." atau "Saya suka memasak" dan kalimat sederhana lainnya harus banget saya terjemahin? Nggak tahu atau pada nggak mau tahu sih??), atau kalau kepepet pas ujian langsung ngirim soal nyuruh njawabin, atau kalau mau sok-sokan ngirim chat bahasa Inggris ke gebetan, dan aneka alesan njengkelin lainnya. Please don't do that to me again! I'm pissed off. Really. Njengkelin tau...

Beda dengan yang memang niat belajar. Dari bahasa aja udah beda, jelas lebih sopan dan enak didengar.
"Mbak bahasa Inggrisnya ...... apa ya?"
"Kalau dirangkai jadi kalimat bener begini nggak, mbak?"
"Mbak tolong koreksikan kalimat saya ini bener nggak ya?" (asal nggak dadakan minta dikoreksikan berlembar-lembar hasil google translate deh)
Aku bakal lebih respect dong pastinya, apalagi kalau: "Mbak, translate di mbak per halamannya berapa ya? Aku mau minta tolong nerjemahin nih..." (eaaaa...hahaha, rejeki nih susah nolaknya).

Intinya sih, cobalah sedikit respect sama ilmu dan waktu orang lain. Ini nggak cuma berlaku buat anak bahasa Inggris aja lhoh. Pun berlaku pada temanmu yang bisa desain, bisa ngomik, bisa ini, bisa itu. Minta tolong boleh, but please respect and have a heart! Thanks.

Senin, 06 Februari 2017

PESAN DIRI: Last Minute


Hei, Dwis di masa mendatang... Aku menulis ini saat menyadari sebuah kesalahan yang sering terulang bahkan sudah seperti kebiasaan. Semoga saat kau membaca ini, kebiasaan buruk ini sudah hilang sehingga membaca catatan ini cukup jadi kenangan, bukan lagi peringatan.

Kau di masa ini terbiasa mengerjakan sesuatu di waktu-waktu deadline hampir berakhir. Prakiraku, mungkin kebiasaan ini terbentuk saat masa-masa padat perkuliahan yang kau sambi mengurus organisasi dan bekerja. Saat itu kau seperti kejar-kejaran dengan deadline ini dan itu. Usai mengerjakan satu hal, pekerjaan lainnya sudah melambai-lambai. Deadline kerjaan, tugas kuliah, serta urusan organisasi seperti sudah antri mengular dan menuntutmu mengatur waktu sedemikian rupa. Wajar bila kau memang mengerjakan satu per satu di akhir waktu. 

Namun, aktivitasmu saat ini meski masih padat, tidaklah sepadat dulu. Kebiasaanmu itu tidak seharusnya masih berlaku. Hingga suatu hari, kau ditampar oleh pengalaman, sang guru terbaik.

3 Februari, hari terakhir melaksanakan KRS. Dan ternyata KRS-an semakin rumit administrasinya. Pertama, kau harus login ke repository untuk registrasi ulang. Lalu tertiba ada peraturan baru bahwa kau harus upload scan ijazah, SKHU, dan KK. Jika beres, barulah bisa login SIAKAD untuk mengisi KRS. Usai itu, kau harus cetak dan bertemu dengan PA.

Dan ingat apa yang terjadi? Tetiba semua semakin rumit saat ada kesalahan sedikit saja. Voila... repository untuk update data registrasi ulang error. Aneh... jelas-jelas tertera registrasi terakhir tanggal 3 namun tanggal 3 itu juga akses sudah dinonaktifkan. Aarrgh... Solusinya? Mau tak mau kau harus mengurus ke bagian IT dulu untuk membukanya. 

Akses sudah terbuka. File scan KK, ijazah, dan SKHU pun sudah siap untungnya (untuk masalah administratif yang ini sudah kau antisipasi sejak pertama datang ke Jogja, agar tidak merepotkan Ibu-Bapak untuk kirim-kirim atau malah kau harus bolak-bolik ke Malang). Namun kau lupa email studentmu apa. Email itu sebelumnya tidak disyaratkan dan tidak pernah terpakai sejak semester pertama. Belum lagi namanya sudah default dari kampus tapi passwordnya sudah pernah kau ganti sebagai syarat keamanan akun. Untungnya, ada pilihan "lupa password" yang dapat mengirim ke email aktif digunakan saat ini. Tapi ya tetep, ini ribet.

Begitu berhasil masuk dan selesai update data yang sebenarnya tidak ada perubahan namun harus mengisi ulang karena setting form yang baru, saatnya mengisi KRS. Untuk membuka KRS kau harus mengisi password dengan PIN yang diberikan di kwitansi pembayaran terakhir. Buka dompet, dan violaa...kwitansi tidak ada di tempatnya. Malah ada kwitansi semester-semester sebelumnya. Dompet sudah seminggu tidak dibuka karena tak ada uangnya, kok sekali buka dompet begini amat kejutannya. 

Okay, mau tak mau ke bank lagi minta cetak rekap. Eh ternyata tidak boleh, tapi tetap dicatatkan PIN untuk login. Pulanglah ke kos untuk akses karena di bank itu sinyal operatorku tidak bagus. Sampai kos, tetap tidak bisa dan salah log in. Hmmm... apa aku tadi salah dengar atau salah mencatat?? Tapi rasanya tidak. Yasudahlah, kembali ke bank yang lebih dekat, Kopma Core lantai 3. Well, sampai di sana kau dapat zonk, Dwis. Teller tidak mau memberi rekap walau sekedar PIN. Bank yang sama kok beda-beda aturannya sih?? Grrr...

Okay, saatnya ke rektorat bagian keuangan di lantai 3 buat lebih amannya. Fine, dengan 3 ribu rupiah. Rekap kwitansi ada di tangan. Waaa... berbinar-binarlah. Belajar dari apa yang terjadi di bank, langsung login aja pakai hape buat ngecek. Tapi, ternyata pttt hape lowbat. It's okay. Balik kos saja, sekalian kalau sudah login bisa segera sarapan di jam makan siang, pikirmu. Sungguh urusan KRS ini menguras tenaga dan emosi (alaaaayyy)

Sampai di kos zonk lagi. Kok tetap tidak bisa... Arrrgh...

Usut punya usut, setelah teman kos yang lebih berkepala dingin daripada yang sedang tidak karuan ini mengecek semua kwitansi spp di dompet, tahulah bahwa ternyata semua password yang dikasih bahkan yang dari rektorat itu adalah password semester lalu-lalu. 

Capek adek, baaaang, tapi ya mau bagaimana lagi. Balik rektorat lagi tapi harus dengan hape yang sudah terisi pastinya. 

Sampai sana, kau jelaskan bla bla bla. Bapak yang mengurusi dengan enteng jawab "Oo... nggak sinkron ini, Mbak, datanya." Bapaaaak... kan dari awal saya sudah matur ini mau buat login KRS jadi minta yang baru, kok nggak dipilihin dari tadiiii (njerit dalam hati). Udah lah, yang penting akhirnya 

Waktu sudah selesai semua urusan ini itu (dan sampai tertidur pulas di kamar teman kos saking capeknya) akhirnya bisa berpikir dingin lagi sambil mikir: 

Kenapa tak kau lakukan dari seminggu lalu, Dwis?? Kalau ada eror atau sesuatu hal yang jelas tidak diinginkan kan jadi tidak se-kemrungsung ini. Makanya ya, lain kali jangan mepet deadline. Trus truus, makin ribet tuh administrasi kampus, makanya ya cepet lulus! Apa mau mepet deadline juga lulusnya?!? Deerrr!