Minggu, 30 Juni 2013

TIGA KUNCI MENUMBUHKAN JIWA ENTERPRENEURSHIP MULAI DARI KEHIDUPAN KAMPUS


Enterpreneurship tengah marak diperbincangkan. Bahkan sering menjadi topik di seminar-seminar lokal, regional, maupun nasional. Berbagai bidang lain pun dikaitkan dengan kewirausahaan. Muncul istilah-istilah seperti edupreneurship, technopreneurship, agropreneurship, bluepreneurship, dan lain sebagainya. Agaknya bangsa ini tengah membangun jiwa pengusaha, bukan lagi pekerja. Menumbuhkan jiwa berpikir kreatif daripada mengikuti aturan semata. Kewirausahaan diharapkan dapat membangun kemandirian bangsa terutama di bidang ekonomi, karena kewirausahaan tidak hanya berfokus pada hasil namun juga proses. Sejatinya, enterpreneurship melatih kita untuk tidak bergantung pada orang lain, tidak bergantung pada gaji atau tunjangan tapi justru berusaha membuka lapangan usaha, tidak bergantung pada keadaan tapi berusaha mengubah keadaan, tidak tergilas oleh era zaman tapi berusaha untuk bertahan dan berkembang. Di sisi lain, mahasiswa merupakan para calon-calon sarjana pengubah masa depan bangsa. Sarjana diharapkan dapat membawa perubahan di banyak bidang. Namun fakta menunjukkan para lulusan sarjana banyak terperangkap di zona aman. Berdasarkan hasil riset, sebesar 83.18 % lulusan sarjana lebih berminat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hanya 6.12% yang berminat menjadi wirausahawan. Ketika ditanya mengapa ingin menjadi PNS, mayoritas menjawab agar hari tua lebih terjamin. Prosentase minat lulusan sarjana tersebut menunjukkan jiwa bergantung yang masih tinggi. Tidak heran jika jumlah lulusan sarjana pengangguran meningkat. Mereka yang tidak lolos seleksi pegawai negeri kelimpungan mencari lapangan pekerjaan, sedang mereka tidak banyak pengetahuan, pengalaman, bahkan minat berwirausaha karena mengandalkan prospek pegawai negeri yang menerima gaji setiap bulannya. Ahirnya banyak yang menganggur atau berpekerjaan tidak tetap. Oleh karena itu, jiwa enterpreneurship sangat perlu ditumbuhkan di kehidupan kampus. Ada tiga hal yang dibutuhkan untuk mempersiapkan para mahasiswa menjadi sarjana dengan jiwa enterpreneurship: mental building, knowledge input, dan habit.


Mental adalah hal krusial yang dibutuhkan dalam melakukan setiap hal. Tidak semua mahasiswa lahir dan tumbuh dengan mental berwirausaha. Oleh karena itu, pembentukan mental adalah hal mendasar yang diperlukan. Mental building dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan motivasi. Motivasi dapat dibangun dengan inspirasi-inspirasi dari tokoh-tokoh enterpreneur sukses. Namun motivasi terbesar adalah motivasi dari diri sendiri. Selain itu adalah dengan melalui pendidikan karakter. Mental building jiwa enterpreuner perlu ditanamkan melalui pendidikan, tidak harus melalui pendidikan formal namun bisa juga melalui non-formal.

Setelah mental mulai terbentuk, pengetahuan dan ilmu tentang kewirausahaan. Melakukan hal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Dengan dibekali ilmu selama di dunia kampus, kelak para sarjana dapat menjadi enterpreneur yang tidak sembarangan dalam berwirausaha, namun telah memiliki bekal ilmu tentang pengelolaan, pemasaran, kepemimpinan, dan hal-hal lain yang dibutuhkan dalam berwirausaha. Knowledge input diperoleh dari berbagai sumber, seperti diskusi, seminar, workshop atau pelatihan, dan sebagainya. Yang terakhir namun tidak kalah penting adalah pembiasaan atau habit. Seperti sebuah kutipan dari Jim Ryan, “Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going”. Mental dan ilmu yang dimiliki tidak akan maksimal tanpa adanya pembiasaan. Lingkungan kampus harus dijadikan sarana melatih diri membiasakan berwirausaha.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa untuk mempersiapkan jiwa enterpreneurship di lingkungan kampus, diperlukan pembangunan mental, pengetahuan dan keilmuan tentang kewirausahaan, dan pembiasaan agar setelah lulus dan menjadi sarjana mereka menjadi lulusan yang  mandiri.

0 komen pemBACA:

Posting Komentar

Komentari yang sudah diBACA yuk :)