Sabtu, 13 September 2014

TERIMA KASIH ENGKAU PERGI

Terima kasih telah  memilihnya dan pergi meninggalkanku. Justru setelah kepergianmu aku mendapatkan jawaban-jawaban dari banyak pertanyaanku. Maaf, bukan karena tak lagi ada rasa sayang di hati, bukan berarti rasa sayang ini otomatis sudah pergi bersama kepergianmu, sampai saat aku menulis ini aku masih setengah rela bahwa kau pergi, tapi bukankah tiada salah jika aku mensyukuri apa-apa yang mampu membuka mata hati.

Bersama denganmu, nyaris tepat 19 bulan lamanya, berbagai tanya berkecamuk. Namun aku tak pernah menanyakannya padamu. Aku hanya memperhatikanmu, tingkahmu, perkataanmu, ekspresi wajahmu, sambil berharap aku menemukan jawaban-jawaban itu dari pengamatanku.

Dan kini, justru setelah kau pergi, aku merasa pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, meski beberapa mengundang sisa pertanyaan berkelanjutan. Seandainya kau membaca, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa.


Ingatkah saat kita pernah bersepakat pergi pukul 11.00? Lalu kau entah kemana tanpa kabar. Dalam hati aku bertanya, "Tidak berpikirkah dia bahwa aku menunggu?" "Tidak pedulikah dia kalau aku benar-benar menunggu dan mengesampingkan urusan lainku?". Waktu itu aku setengah marah, ya seperti biasa aku memang pemarah kan di matamu? Aku kirim SMS, dan dengan entengnya kau hanya menjawab "Di sini hujan." Bagaimana aku tahu disana hujan tanpa kau mengabariku!
Dan dari situ aku merasa ragu: "Benarkah engkau akan untukku?"

Ingatkah ketika ada yang mendekatimu? Mengagumimu lebih dari yang kutahu, dan bahkan kerap mengirim pesan di HP-mu. Lebih perhatian dariku yang sebenarnya tak ingin berlebihan. Kau tahu, sungguh aku cemburu, apalagi kau tak memberitahuku tanpa kutanya terlebih dahulu. Entah karena ingin menjaga perasaanku, atau memang kau menikmati rasa terpesonanya karena pikatmu, tapi yang jelas aku bertanya-tanya "Mengapa kau tidak menceritakannya sebelum ku bertanya?"
Dan kembali ku MERAGU: "Benarkah engkau akan untukku?"

Ingatkah saat ada lagi pengagummu yang terang-terangan mengajakmu hidup bersama? Untuk kedua kalinya, kau tidak dengan terbuka memberitahuku tanpa lebih dulu kutanya. Bahkan kau bercerita hampir jadi pergi bersamanya. Pergi bersamanya tanpa mengabariku?? Ah... tak perlu aku memintamu muluk-muluk meminta izin padaku, tapi cukuplah memberi tahuku saat itu. Seperti aku selalu memberitahumu bila akan pergi dengan yang selainmu. Kau memang tak pernah memintaku, tapi begitulah kucoba menjaga perasaanmu, dan menghargaimu bahwa aku benar-benar menganggap siapa dirimu. Tapi ternyata kau begitu. Hmm... *menghela nafas. "Mengapa begitu? Kau anggap siapa aku?
Lagi- lagi muncul sang RAGU: "Benarkah engkau akan untukku?"

Ingatkah juga setiap kali aku merajuk karena hal-hal seperti diatas kau pasti justru mengacuhkanku? karena hal-hal yang bagiku meski kecil tapi penting namun kau sering mengabaikan, dan kau terkesan tak pernah berusaha mengerti, memperbaiki. Bahkan ketika aku marah, kau balik marah, tak mau mengalah apalagi mengakui salah. Padahal bila kau marah, dan jika aku memang salah, kubujuk kau agar tak berlama-lama marah dan kuakui bahwa aku salah, dan kata MAAF tidaklah begitu mahalnya kuucapkan. 
Dengan sikapmu itu, bagaimana aku tidak RAGU"Benarkah engkau akan untukku?"

Ingatkah kau pernah bersalah dan akhirnya kita selalu berselisih karenanya? Aku berusaha memaafkanmu. Padahal untuk memaafkan kesalahan yang sama itu sungguh tidak mudah. Aku memilihmu karena agamamu, bilang rapuh ia maka merapuh pula cintaku padamu. "Kau anggap apa aku?
Kesalahanmu itu adalah yang paling membuatku RAGU: "Benarkah engkau akan untukku?" 

Ingatkah pula sebelum aku pulang mudik kala itu? Engkau mengantarku tanpa menunggu, seolah sebelum jarak membentang, hati kita terasa sudah berjarak betapa jauhnya. Mengapa harus bertanya? Engkau seharusnya tahu selayaknya bagaimana. Dan aku merajuk, seperti biasa engkau pun marah. Sungguh kecewa. "Bila engkau telah benar-benar memilihku, begitukah sikapmu memperlakukanku?" Dan ingatkah pula, setahun kemudian terulang hal serupa. Lagi-lagi begitu, bahkan kau keras membentakku, bagaimana tidak menangis aku.
Sungguh jadi semakin RAGU: "Benarkah engkau akan untukku?" 

Ingatkah saat engkau belum pernah menanyakan nama orang tuaku? Besar sungguh keherananku. Apakah engkau benar-benar seserius itu bila nama orang terpenting di hidupku saja engkau seperti dan terlihat tidak peduli. Apakah engkau tidak bisa menyayangi mereka atau setidaknya belajar menyayangi mereka seperti aku belajar menyayangi orang tua dan adik-adikmu? Atau justru aku yang salah karena aku memang terlalu jauh menempatkan diriku? Justru akukah yang salah yang terlalu menelan mentah harapan-harapan darimu?
Lagi dan lagi, aku RAGU: "Benarkah engkau akan untukku?" 

Itulah sebagian dari hal-hal yang membuatku bertanya-tanya. Ah... masih banyak lagi ingatan-ingatan pengundang beribu tanya itu. Berkelebatan liar di pelupuk mata. Karena setiap momen bersama, entah mengapa betah mengendap di kepala. Meski di sebagian momen-momen itu aku pernah merasa tak dicintai, tak dihargai, tak begitu diingini, tak seperti apa yang kau lisankan lewat kata. 

Dan dari semua pertanyaan itu aku merangkumnya jadi satu, "Apakah benar engkau akan untukku?" Jika benar, mengapa bertumpuk-tumpuk keraguanku? Apakah benar telah DEMI ALLAH engkau menyayangku seperti DEMI ALLAH aku menyayangmu?? Jika benar, mengapa aku tak merasa jannahnya terasa lebih dekat bila bersamamu??

Dan salahku sejak awal adalah mengabaikan hati kecilku, aku berusaha memakluminya. Kupikir dengan mengiyakan keseriusanmu kita akan lebih mengerti satu sama lain, dan lebih bisa berkomunikasi dengan baik, lebih bisa mengutarakan hati masing-masing jika telah terhalalkan. Salah, aku salah.

Mungkin sudah kehendak-Nya, bila tiba-tiba ibumu sebegitu menjunjung tinggi darah ras kalian untuk menentukan pilihan masa depan anak lelaki semata wayangnya. Mungkin memang harus begitu, karena Dia memang ingin menegurku dengan lebih tegas:
"Dwis! Bukan dia! Bukan dia yang sudah Ku sediakan untukmu! Sabar saja dulu!"

Kini setelah kau pergi, jelas sudah bahwa Dia memang sudah mengingatkanku dengan keraguan-keraguan yang kuabaikan itu. Ah... dari dulu sebelum aku seberani ini memilihmu, aku sudah sering mengutuk perasaan-perasaan semacam cinta yang menurutku menjadi sumber segala ketidaktentraman hati, aku lebih sering mengabaikannya. Sekarang aku baru tahu rasa sendiri. Sekali aku membuka hati, runyam sungguh bila tersakiti begini. Mata hatiku terkaburkan perasaan-perasaan yang menyesatkan. Aku menyesal... Ah tidak, tidak apa, aku belajar banyak hal dari semua ini. Bukankah hikmahnya adalah aku tidak hanya mengerti teori-teori patah hati dari pengalaman curhat-curhat sahabat, tapi aku merasakan sendiri. Heheehe...

Di sisi lain aku sungguh lega sekarang. I've found the answer of my BIG QUESTION. Dan sekarang aku bisa banting stir dari segala rencana yang pernah kita susun bersama. Membuka kembali mimpi-mimpiku yang sempat kusisihkan karena mengalah atas mimpi-mimpimu. 


Terima kasih atas pilihanmu yang bukan untukku, karena itu MENGEMBALIKAN KESADARANKU untuk selayaknya kembali menjaga hatiku setegas dulu sebelum bertemumu.
Terima kasih atas kebaikanmu selama bersamaku dulu, tak akan kulupakan itu. InsyaAllah, Dia-lah yang bisa membalas dengan lebih baik dari yang bisa kulakukan untuk membalasnya. Jazakallah.

Aku dulu mencintaimu karena Allah, dan kini aku rela melepasmu karena Allah.
Aku dulu memilihmu karena niat bersama menuju persatuan dengan cara-Nya, dan kini aku rela melepasmu karena baktimu pada ibumu yang menggenggam sebagian ridho-Nya.



Seberapapun panjang tulisanku, rasanya belum cukup merangkum semua yang sedang ada di pikiranku. Biarlah sepenggal ini sedikit melegakan beban hati. Terima kasih, engkau berkenan membaca sejauh ini.
This entry was posted in

0 komen pemBACA:

Posting Komentar

Komentari yang sudah diBACA yuk :)