Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

(BUKAN) KAMUS BERJALAN

Sumber: Pinterest
"Tring!" Sebuah pesan masuk. Lalu diikuti beberapa pesan lain. Isinya adalah kiriman foto atau screenshoot sebuah teks 1 halaman yang diikuti pesan "Mbak, bahasa Inggrisnya apa?" Kadang juga ada pesan copy-paste 1 paragraf lebih yang disusul kalimat "Dwis, bahasa Inggrisin dong!" Bahkan pernah juga mengirimi soal-soal bahasa Inggris dengan bubuhan pesan "Mbak, tolong bantuin ngerjain ya. Itu nomer 23-30 jawabannya apa?"

Umumnya jawaban andalanku:
"You try first." 
"Coba kalau menurutmu gimana dulu?"
"Kirim versimu? Nanti coba ta koreksi kalau ada yang kurang tepat."
"Yang perlu dijelasin atau belum bisa yang bagian mana?"

Ada yang kemudian balas lagi "Okay deh ta coba dulu ya, nanti benerin." Ada pula yang balas "Ayolah... aku nggak bisa." atau "Duh nggak bisa semua, makanya nanya."

Well, saya sudah gemes pingin nulis uneg-uneg ini dari dulu. Dan serius deh aku nggak bisa nulis ini dengan versi santun mendayu-dayu. Kayaknya memang harus kutulis lugas.

Entah pengalaman begini memang dialami sama semua anak jurusan bahasa sastra Inggris, pendidikan Inggris, de el el yang berbau-bau Inggris) atau nggak. Bukannya nggak mau bantu ya tapi aku (mungkin juga mewakili anak bahasa Inggris yang lain) paling geregetan kalau pada nanya bukan karena mau belajar tapi emang karena males. Keliatan kaleee. Pesan-pesan itu dari segi bahasa pun kesannya maksa, nyuruh, bukan minta tolong. Beneran deh aku pun jadi malas meladeni sebenarnya, karena aku juga sedang melakukan kesibukanku. Dipikir gampang dan cepet apa nerjemahin segitu. Nggak tahu sih karena ada sisi perfeksionis atau gimana, aku selalu butuh ngecek bener nggaknya beberapa istilah melalui aplikasi kamus Cambridge. Atau setidaknya utak-atik kalimat terjemahannya biar lebih sesuai konteks dan bahasa. Apalagi kalau memang teksnya bertema bidang khusus ya aku juga harus nyari vocab yang nggak kuhafal. Aku bukan orang Inggris asli, juga bukan orang dengan IQ super tinggi, jadi aku nggak hafal jutaan vocab di kamus ya. Bahasa Indonesia aja ada kosakata yang nggak kutahu dan hafal. Lagipula, sebagai anak Bahasa Inggris tentu aku punya tuntutan (sekaligus beban) moral buat ngasi terjemahan yang bener, tuntutannya yang lebih gede daripada anak jurusan lain tapi pinter bahasa Inggris. Kalau salah, kurang tepat, terdengar aneh, toh pasti pada protes kan?? 

Jadi please, tolong, kumohoooon, jangan jadikan aku kamus berjalan andalan kalau kalian lagi mendadak butuh tapi males nerjemahin (ya keleus bagian yang kalimat sederhana "Saya berpikir bahwa...." atau "Saya suka memasak" dan kalimat sederhana lainnya harus banget saya terjemahin? Nggak tahu atau pada nggak mau tahu sih??), atau kalau kepepet pas ujian langsung ngirim soal nyuruh njawabin, atau kalau mau sok-sokan ngirim chat bahasa Inggris ke gebetan, dan aneka alesan njengkelin lainnya. Please don't do that to me again! I'm pissed off. Really. Njengkelin tau...

Beda dengan yang memang niat belajar. Dari bahasa aja udah beda, jelas lebih sopan dan enak didengar.
"Mbak bahasa Inggrisnya ...... apa ya?"
"Kalau dirangkai jadi kalimat bener begini nggak, mbak?"
"Mbak tolong koreksikan kalimat saya ini bener nggak ya?" (asal nggak dadakan minta dikoreksikan berlembar-lembar hasil google translate deh)
Aku bakal lebih respect dong pastinya, apalagi kalau: "Mbak, translate di mbak per halamannya berapa ya? Aku mau minta tolong nerjemahin nih..." (eaaaa...hahaha, rejeki nih susah nolaknya).

Intinya sih, cobalah sedikit respect sama ilmu dan waktu orang lain. Ini nggak cuma berlaku buat anak bahasa Inggris aja lhoh. Pun berlaku pada temanmu yang bisa desain, bisa ngomik, bisa ini, bisa itu. Minta tolong boleh, but please respect and have a heart! Thanks.

Senin, 06 Februari 2017

PESAN DIRI: Last Minute


Hei, Dwis di masa mendatang... Aku menulis ini saat menyadari sebuah kesalahan yang sering terulang bahkan sudah seperti kebiasaan. Semoga saat kau membaca ini, kebiasaan buruk ini sudah hilang sehingga membaca catatan ini cukup jadi kenangan, bukan lagi peringatan.

Kau di masa ini terbiasa mengerjakan sesuatu di waktu-waktu deadline hampir berakhir. Prakiraku, mungkin kebiasaan ini terbentuk saat masa-masa padat perkuliahan yang kau sambi mengurus organisasi dan bekerja. Saat itu kau seperti kejar-kejaran dengan deadline ini dan itu. Usai mengerjakan satu hal, pekerjaan lainnya sudah melambai-lambai. Deadline kerjaan, tugas kuliah, serta urusan organisasi seperti sudah antri mengular dan menuntutmu mengatur waktu sedemikian rupa. Wajar bila kau memang mengerjakan satu per satu di akhir waktu. 

Namun, aktivitasmu saat ini meski masih padat, tidaklah sepadat dulu. Kebiasaanmu itu tidak seharusnya masih berlaku. Hingga suatu hari, kau ditampar oleh pengalaman, sang guru terbaik.

3 Februari, hari terakhir melaksanakan KRS. Dan ternyata KRS-an semakin rumit administrasinya. Pertama, kau harus login ke repository untuk registrasi ulang. Lalu tertiba ada peraturan baru bahwa kau harus upload scan ijazah, SKHU, dan KK. Jika beres, barulah bisa login SIAKAD untuk mengisi KRS. Usai itu, kau harus cetak dan bertemu dengan PA.

Dan ingat apa yang terjadi? Tetiba semua semakin rumit saat ada kesalahan sedikit saja. Voila... repository untuk update data registrasi ulang error. Aneh... jelas-jelas tertera registrasi terakhir tanggal 3 namun tanggal 3 itu juga akses sudah dinonaktifkan. Aarrgh... Solusinya? Mau tak mau kau harus mengurus ke bagian IT dulu untuk membukanya. 

Akses sudah terbuka. File scan KK, ijazah, dan SKHU pun sudah siap untungnya (untuk masalah administratif yang ini sudah kau antisipasi sejak pertama datang ke Jogja, agar tidak merepotkan Ibu-Bapak untuk kirim-kirim atau malah kau harus bolak-bolik ke Malang). Namun kau lupa email studentmu apa. Email itu sebelumnya tidak disyaratkan dan tidak pernah terpakai sejak semester pertama. Belum lagi namanya sudah default dari kampus tapi passwordnya sudah pernah kau ganti sebagai syarat keamanan akun. Untungnya, ada pilihan "lupa password" yang dapat mengirim ke email aktif digunakan saat ini. Tapi ya tetep, ini ribet.

Begitu berhasil masuk dan selesai update data yang sebenarnya tidak ada perubahan namun harus mengisi ulang karena setting form yang baru, saatnya mengisi KRS. Untuk membuka KRS kau harus mengisi password dengan PIN yang diberikan di kwitansi pembayaran terakhir. Buka dompet, dan violaa...kwitansi tidak ada di tempatnya. Malah ada kwitansi semester-semester sebelumnya. Dompet sudah seminggu tidak dibuka karena tak ada uangnya, kok sekali buka dompet begini amat kejutannya. 

Okay, mau tak mau ke bank lagi minta cetak rekap. Eh ternyata tidak boleh, tapi tetap dicatatkan PIN untuk login. Pulanglah ke kos untuk akses karena di bank itu sinyal operatorku tidak bagus. Sampai kos, tetap tidak bisa dan salah log in. Hmmm... apa aku tadi salah dengar atau salah mencatat?? Tapi rasanya tidak. Yasudahlah, kembali ke bank yang lebih dekat, Kopma Core lantai 3. Well, sampai di sana kau dapat zonk, Dwis. Teller tidak mau memberi rekap walau sekedar PIN. Bank yang sama kok beda-beda aturannya sih?? Grrr...

Okay, saatnya ke rektorat bagian keuangan di lantai 3 buat lebih amannya. Fine, dengan 3 ribu rupiah. Rekap kwitansi ada di tangan. Waaa... berbinar-binarlah. Belajar dari apa yang terjadi di bank, langsung login aja pakai hape buat ngecek. Tapi, ternyata pttt hape lowbat. It's okay. Balik kos saja, sekalian kalau sudah login bisa segera sarapan di jam makan siang, pikirmu. Sungguh urusan KRS ini menguras tenaga dan emosi (alaaaayyy)

Sampai di kos zonk lagi. Kok tetap tidak bisa... Arrrgh...

Usut punya usut, setelah teman kos yang lebih berkepala dingin daripada yang sedang tidak karuan ini mengecek semua kwitansi spp di dompet, tahulah bahwa ternyata semua password yang dikasih bahkan yang dari rektorat itu adalah password semester lalu-lalu. 

Capek adek, baaaang, tapi ya mau bagaimana lagi. Balik rektorat lagi tapi harus dengan hape yang sudah terisi pastinya. 

Sampai sana, kau jelaskan bla bla bla. Bapak yang mengurusi dengan enteng jawab "Oo... nggak sinkron ini, Mbak, datanya." Bapaaaak... kan dari awal saya sudah matur ini mau buat login KRS jadi minta yang baru, kok nggak dipilihin dari tadiiii (njerit dalam hati). Udah lah, yang penting akhirnya 

Waktu sudah selesai semua urusan ini itu (dan sampai tertidur pulas di kamar teman kos saking capeknya) akhirnya bisa berpikir dingin lagi sambil mikir: 

Kenapa tak kau lakukan dari seminggu lalu, Dwis?? Kalau ada eror atau sesuatu hal yang jelas tidak diinginkan kan jadi tidak se-kemrungsung ini. Makanya ya, lain kali jangan mepet deadline. Trus truus, makin ribet tuh administrasi kampus, makanya ya cepet lulus! Apa mau mepet deadline juga lulusnya?!? Deerrr! 

Kamis, 02 Februari 2017

RINDU

Rindu

Ada dua macam kerinduan. Yang pertama tersebab pernah mengalami dan ingin mengulangnya lagi. Yang kedua tersebab belum pernah mengalami dan ingin merasakannya suatu hari sehingga rela menanti hingga datangnya hari. (Parafrasa kutipan @fahdpahdepie, 2011 -kalau nggak salah- dalam video “Revolvere Project”)

Bicara tentang rindu, pernahkah mengalami keduanya? Ya… Sepertinya setiap dari kita lumrah bila pernah dilanda rindu. Kerinduan-kerinduan sederhana (namun berbeda) seperti rindu masakan bunda atau justru rindu ingin mencoba makanan unggahan akun kuliner yang sedang muncul di beranda; seperti rindu sama hp jadul kesayangan itu atau justru rindu ingin membeli hp baru; seperti rindu guru, rekan, saudara, serta kawan lama yang sekian waktu tak lagi jumpa atau malah rindu ingin bertemu dengan Rasul-Nya kelak di surga; seperti rindu pada seseorang dari masa lalu atau justru pada seseorang di masa depan yang sebenarnya belum kita tahu; seperti rindu masa-masa awal perjuangan kuliah atau malah rindu ingin diwisuda segera sajalah.

Sederhana ya rasa rindunya, namun sesederhana apapun kerinduan itu (yang pertama ataupun yang kedua), akibatnya pada sang perindu tak pernah sederhana. Rindulah yang membuat seseorang bertindak atau berubah. Kerinduan pertama memacu diri, kerinduan kedua pun demikian. Sebab rindu pada ibu, diri terpacu tuk menyelesaikan segala urusan demi segera bertemu. Sebab rindu pada orang-orang yang dulu ditemui, diri tergerak untuk bersilaturahim kembali. Sebab rindu ingin hp baru, diri termotivasi untuk lebih giat bekerja. Sebab rindu pada Rasulullah, diri terpacu untuk meneladani dan berubah, hijrah. Sebab rindu ingin sarjana, diri tercambuk untuk merampungkan tugas akhir segera. Begitulah, cara kerja gaya rindu menekan manusia untuk berubah.

Jadi kerinduan macam apa yang tengah kau alami kini? Apapun itu, semoga rindu itu tetap kau tuntun ke arah yang baik dan membaikkanmu.

©DwisRiyuka | 20160130

Kamis, 18 Agustus 2016

JATUH


Jatuh. Setiap jatuh itu mengingatkan. Setiap jatuh adalah teguran. Setiap jatuh mempunyai pembelajaran. Setiap jatuh mengandung ujian. Bila demikian, harusnya tak ada jatuh yang menjadi musibah, sebab dalam setiap jatuh selalu ada ibrah. Setiap jatuh akan mempunyai makna, bergantung pada perenungan kita.

Apapun jatuh yang tengah kau alami, menguatlah dengannya. Entah itu jatuh celaka, jatuh cinta, jatuh bangkrut, jatuh miskin, jatuh pilu, dan segala macam jatuh yang menyakitkan awalnya, buatlah itu menjadi pupuk bagi pertumbuhan hati dan akalmu pada akhirnya. Buktikan setidaknya pada dirimu sendiri, bahwa kau mampu menangkap pengingat yang Dia berikan, sanggup menerima teguran-Nya dengan dada yang lapang, dapt berkaca pada pembelajaran yang darinya kau dapatkan, dan bisa melalui ujian yang menyertai setiap kejatuhan.

Setiap jatuhmu adalah untuk bangun.

Dwis Riyuka | 20160817
*Credit to Martin Stranka (thanks for the nice photograph I made as background)

Jumat, 24 Juni 2016

THROWBACK 2014

Tuhan memberi jalan lewat teguran, lewat kesedihan, lewat kekurangan, lewat kemiskinan, lewat kesulitan, lewat perpisahan, lewat kegagalan, pun lewat hal-hal lain yang menyakitkan hanya demi mengembalikan arah kita yang terlanjur terbelokkan. Bukan karena Dia Sang Maha yang bisa semena-mena, namun karena begitulah cara mendidik umat-Nya. Allah memberi jalan agar kita kembali pada arah kebaikan, pada jalan yang membahagiakan.

Waktu sungguh cepat berlalu, ingatanku kini terpaku di angka 2014. Tahun berkesan itu sudah dua kali berganti ekor angkanya. Bagiku tahun 2014 adalah tahun penuh keberkahan, tahun di mana aku dikembalikan dari kubangan ketidak-tahuan yang menyeretku jauh menuju kesia-siaan. Tahun 2014 aku diselamatkan dari kehilafanku melupakan dan mencampakan impian. Tahun yang mengubah banyak hal yang kulalui hari ini. Tahun yang kusyukuri namun juga membuatku menyesali tahun sebelumnya.

Kepada tahun 2014 dan segala memori di dalamnya, dimohon dengan sangat jangan lagi mengusik pikiran ini.
This entry was posted in

Sabtu, 11 Juni 2016

RAMADHAN ALA MASJID KAMPUNG JOGOKARIYAN

Suatu kali di bulan ramadhan, aku dan seorang temanku menuju bagian selatan Yogyakarta, Jalan Parangtritis lebih tepatnya. Masih di kilometer awal-awal, kami berbelok ke Jalan Jogokariyan di mana Masjid Jogokariyan megah berdiri di sisi kiri jalan. Ya, itulah Masjid tujuan kami.

Minggu, 22 Mei 2016

MEMASAK; Hijrah dari Ogah menjadi Doyan Parah

Foto alay hasil belajar masak yang terunggah di medsos.

Dulu semasa masih sekolah dan tinggal di rumah, aku paling malas jika diminta  membantu ibu masak, aku akan lebih memilih membantu beres-beres atau bersih-bersih rumah. Bagiku waktu itu, kepuasan melihat sesuatu yang tadinya kotor & berantakan berubah jadi bersih & rapi itu lebih menyenangkan daripada harus berkutat dengan dapur dan aneka bumbu-bumbuan. Alhasil, aku tidak pernah memasak yang benar-benar memasak, hanya terkadang membantu Ibu mengiris/mengulek bumbu. Padahal, sebenarnya, masa itu adalah kesempatan emas berguru pada Ibu yang bakat masak enak menurun bakat nenekku. Malah Bapak pun pernah bilang sebenarnya aku juga bakat masak seperti Ibu setelah beliau makan masakanku (saat ada momen "terpaksa masak" menggantikan ibu yang tengah sakit kala itu). Namun tetap saja, aku enggan mengasahnya hingga 'bakat' itu sepertinya tak mungkin lagi menurun kepadaku.

Namun sesuatu yang bernama waktu menjadi sarana Tuhan memutarbalikkan keadaan. Allah rupanya menakdirkan aku hidup jauh dari ibu terdampar di luasnya bumi perantauan. Perantauan ini salah satunya membuatku sadar bahwa aku harus bisa memasak sendiri.

Senin, 04 April 2016

IBU: WONDER WOMAN DI DUNIA NYATA

 
Secara fisik, lelaki memiliki kekuatan yang lebih dari wanita. Dari segi postur tubuh dan susunan tulang pun, lelaki memiliki kelebihan dibandingkan dengan wanita secara biologis. Namun pada kenyataannya, banyak sekali kisah-kisah wanita dengan kekuatan luar biasa melebihi kekuatan fisik laki-laki yang menjungkirbalikkan fakta pada umumya. Kekuatan wanita-wanita itu bersumber dari kekuatan hati. Bisa jadi, dengan keteguhan hati mereka, maka fisik itu menjadi lebih kuat atau dikuat-kuatkan. Pernahkah kau dengar kisah-kisah wanita melahirkan anak kembar sebanyak 4, 6, atau bahkan 8? Ahli medis mengungkapkan rasa sakit yang dialami oleh ibu melahirkan adalah 57 del (satuan rasa sakit) yang setara dengan rasa sakit jika 20 tulang patah bersamaan, sementara rasa sakit yang mampu ditahan oleh laki-laki hanya sampai 45 del lebih dari itu ia akan mati. Maka aku tak heran jika Tuhan menjanjikan surga bagi para ibu yang gugur di medan “perang” melawan rasa sakitnya melahirkan.

Rabu, 03 Juni 2015

BAHAGIAKAN DIRIMU

Jangan lupa bahagia 😊
Kadang kita harus membiarkan lepasnya tawa,
seperti ada waktunya kita harus menyantunkan lisan.

Jangan lalai membahagiakan diri 😉
Indah tidaknya hari yang kita lalui
bergantung pada bagaimana kita mengatur hati.

Asal bahagiamu tak menyalahi-Nya,
Asal bahagiamu bukan dalam melakukan dosa,
Kau memang berhak bahagia

Dan ingatlah...
Bahagianya Muslim diawali
dari cerdasmu dalam mensyukuri
apa-apa yang telah Allah beri
Selamat membahagiakan diri ✨

.
Created using #cymera | #DR #dwisriyuka #happiness #bahagia #kebahagiaan #puisi #menulis #muslim #islam #laugh #smile #senyum #tawa #candid

Senin, 29 Desember 2014

BEGADANG DI GUDANG

Ada masa-masa mahasiswa dilumat kesibukan luar biasa. Bisa jadi karena jadwal yang memang padat, atau karena lalainya mengatur jadwal walau tidak begitu padat. Mahasiswa-mahasiswa dengan segala sibuknya adalah mereka yang mengaktifkan diri di organisasi, atau di komunitas, atau sedang mengabdikan diri di suatu kepanitiaan, atau bahkan sambil bekerja paruh waktu. Tidak bisa dipungkiri, banyak mahasiswa macam ini yang bermetamorfosa menjadi mahasiswa yang melalaikan dirinya sendiri.

Mahasiswa lalai ini kerap mengabaikan diri sendiri. Jangan kira sempat liburan, Sabtu Minggu saja sering ada kegiatan. Makan sudah tak teratur lagi. Pakaian ditumpuk dulu, dicuci seminggu sekali. Kamar bisa dikatakan berantakan sekali. Buku bacaan dan kertas-kertas tugas di sana sini. Tidak heran teman lainnya mengatakan kamarnya serupa gudang. Selain itu, demi merampungkan segala kewajiban, sampai malam ia dituntut begadang. Sampai-sampai begadang sudah menjadi kebiasaan.

Ah… begadang di ‘gudang’, apa boleh buat. Begitu penat, barulah kamar dirombak, meluangkan waktu agar sempat. Ah… begadang di ‘gudang’, tak mau lagi-lagi tapi tetap saja terulang lagi. Susah sekali mengelak keadaan ini. Amanah dan tanggung jawab menjadi prioritas, takkan tenang mengurus diri sebelum semua tuntas.

Dan setidaknya seminggu sekali, gudang berubah menjadi sangat rapi. Dan saat gudang itu bukan gudang lagi, pikiran menjadi lebih jernih lagi. Maka jangan membiarkan gudang selamanya gudang, sebab tak mungkin kau selalu tahan.

Senin, 22 Desember 2014

Persembahan CINTA untuk AYAH dan BUNDA


Judul : Persembahan Cinta untuk Ayah dan Bunda
Tebal : 310 halaman
Penerbit : UKKI Press.
Percetakan : Pelangi Inspirasi
Penulis : Dwis Riyuka, dkk
Cover : Denda Yulia A.R
Harga : Rp. 38.000,00

Pemesanan:
Ketik Persembahan Cinta_Nama Lengkap_Alamat Lengkap_Nomor yang bisa dihubungi_Jumlah Pesan kirim ke 089 617 549 302 (Halimah)

Contoh: Persembahan Cinta_Rizky Kezyawati_Jalan Colombo No 45 Yogyakarta 55281_085xxxxxx_5 buah

Sabtu, 20 Desember 2014

RENUNGAN PERANTAUAN

Kami bertukar suara,
suaraku dan suaranya yang melahirkanku.
Kami membincangkan masa depan
tentang rencana dimana adik akan disekolahkan.
Dan aku menyarankan
untuk melepas adik ke perantauan,
agar ia hidup dalam kehidupan,
agar ia terdewasakan oleh kemandirian.
Ibu ternyata mengisyaratkan elakan
"Lalu Bapak Ibu akan di rumah sendirian?"

Jumat, 19 Desember 2014

EMBUN MATA PARA BUNGA

Sepasang itu lama tak mengakrabi-Nya
Mendoa pada-Nya tapi titah tak dilaksana
Sepasang itu jarang nian bercengkerama dengan-Nya
Sesekali hanya menyapa dengan sebuah pinta

Sepasang itu berbunga tiga
Bunga dengan kecantikan beda-beda
Satu bunga diantara tiga
Kuat mengharap kembalinya mereka pada takwa

Bunga-bunga mereka mekar
Satu memudar
Dua lainnya bagai lilin tengah berpendar
Melangitkan doa tiada pudar
Dari api naar semoga serumpun kan terhindar

Suatu kali sepasang itu memanjat pinta
entah berpinta apa
dengan cara beda dari biasa
Sepasang itu kini membumikan dahi bersama
tiap-tiap ada seruan-Nya
Mereka mendekati-Nya dengan lebih mesra

Bunga-bunga pun berbunga-bunga
Hingga tak terasa berjatuhan embun mata
Dalam dada tumbuh syukur yang tak terkata

[19122014]

DIBASUH SUBUH

Kepasrahan telah menelanjangi kecewa
Menjadikannya hampir tiada
Segala keluh luruh seluruh
Dibasuh sang subuh

Luka-luka menguap ke angkasa
Dilucuti kejamnya keluguan doa
Aneka pinta terengkuh
Lalu terbilas dinginnya subuh

Harapan bening mengembun
Mengalahkan amarah yang naik ke ubun
Segala cita enggan runtuh
Makin menguat kala subuh

[19122014]

Senin, 15 Desember 2014

MERAPAT bukan MENGINJAK

Suatu kali saat berjamaah di masjid kampus, akwat disamping saya menginjak ujung kaki saya saat merapatkan shaf. Haikk... nyuutt. Mungkin tak sengaja, pikirku.Maka kala itu, ini belum menjadi masalah bagiku. Di kesempatan lain saat shalat, ternyata hal serupa terulang. Kali ini akhwat di samping saya terlambat satu rakaat. Dia merapatkan shaf dan nyuutt (sepertinya akhwat kali ini lebih besar dari yang kemarin). Saya sedikit menggeser kaki namun tetap menjaga kerapatan shaf. Namun rakaat berikutnya, dia kembali melakukan hal yang sama bahkan lebih melebarkan kakinya agar bisa mencapai ujung kakinya sampai terinjak. Well, jujur ini mengganggu kekhusyukan. Dan tiap berjamaah ada saja yang seperti itu. Bukannya saya tidak menghargai keberagaman, tapi yang seperti itu sedikit mengganggu bagi saya. Maklum kaki saya kecil, kalau diijak unjungnya oleh kaki yang seringnya memang lebih besar daripada saya, itu sangat terasa. 

Saya tahu, niat beliau adalah untuk merapatkan shaf. Tapi sepanjang yang saya tahu, merapatkan shaf adalah dengan memastikan bahwa bahu menempel, mata kaki merapat, dan dianjurkan meluruskan shaf. Tidak harus sampai menginjak kan? 

Sabtu, 13 Desember 2014

Jumat, 12 Desember 2014

RAHASIAKAN pinangan, UMUMKAN pernikahan

"RAHASIAKANkanlah pinangan, UMUMkanlah pernikahan." (HR. Ibnu Hibban 1285, Ath-Thabarani I: 1/69, dan lainnya)
Itu sunnah Rasulullah. Maka jika mengganti status di Facebook menjadi bertunangan, tidak di'set 'private' artinya banyak orang bisa melihat, apakah itu bisa disebut merahasiakan??

Jumat, 05 Desember 2014

Kepadamu IBU

Kepadamu Ibu, aku sampaikan rindu
mengingat kata dan petuahmu,
mengingat senyum rentamu,
di sini aku termangu

Kepadamu Ibu, anakmu mengaku
kehilangan asa dan gairah dulu
Entah kemana itu
gejolak yang menggebu, yang mengalahkan keras kepalamu
Entah kemana itu
cita-cita mulia membahagiakanmu
menjadi kebanggaanmu
membalas budi tak terukurmu
Entah kemana itu
Entah...

Sendiri di sini, tanpamu, Ibu
Bahkan kepadamu aku tak mampu mengadu
bahwa tak semua teman adalah teman
tak semua yang berkata sayang, benar-benar sayang
mereka yang bersamaku tak selamanya di pihakku
dia pun begitu, datang dan pergi semau-mau
Sendiri, Bu.... Sendiri...
Tak sendiri pun bisa saja aku merasa sendiri
sebab terkadang keramaian hanyalah kulit ari
sedang yang mendarah daging itu biasa kusebut sunyi

Kamis, 04 Desember 2014

SEMERAH MIMPI YANG MEREKAH

Dari sahabat FLP Jogja saat kado silang.
Taukah sahabat
Saat bungkus putih itu kubuka
Bahagiaku tak terkata
Sebab mana kusangka
kudapati buah lincah tanganmu
di depan mataku

Merah membisikkan cinta
Dan kau membisikkannya lewat sepenggal bahasa
"Aku sudah berjuang nyulap LUARnya
Sekarang GILIRANMU nyulap ISInya"

Engkau PASTI BISA Karena Ia Pun Juga


  • Bila ia bisa bersenang-senang tanpa lagi memperdulikanmu, engkau pun pasti bisa memperdulikan hal lain yang lebih bisa menyenangkanmu daripadanya.
  • Bila ia bisa tersenyum dengan lepasnya tanpa memikirkanmu, engkau pun pasti bisa melepaskan beban pikiranmu yang masih dipenuhinya.
  • Bila ia bisa sebegitu bahagianya meski telah meninggalkanmu, engkau pun pasti bisa membahagiakan dirimu meski tanpanya.
  • Bila ia bisa mengeringkan air mata tanpa merasa berdosa padamu, engkau pun harusnya berhenti menghapus dosanya dengan air matamu saat mengingatnya.
  • Bila ia bisa tenang dalam menyikapi kesalahannya terhadapmu, engkau pun pasti bisa menenangkan dirimu menghadapi salah sikapnya.
  • Bila ia bisa acuh dan tak mau tahu perjuanganmu menolak munculnya rasa benci itu, engkau pasti bisa mengacuhkan kebencian yang ditimbulkannya.
  • Bila ia bisa dengan mudahnya berlalu lalu menghapusmu, engkau pun pasti bisa menghapus masa lalu dengannya yang tak layak memilikimu itu, dengan sama mudahnya.

Engkau pasti bisa, karena ia juga lebih dulu bisa. Relakan saja orang yang lebih dulu merelakanmu. Mungkin dulu bukan demi Allah ia mengikatmu, bukan demi Allah kalian berpadu. Maka kini biar Allah-lah yang menjauhkannya agar baik bagimu. Belajarlah, dan jangan lagi mengulangi itu!