Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 November 2017
Rabu, 04 Oktober 2017
Allah Mencintai
Pernah gak sih antara iseng² (yang didukung rasa penasaran atas jawaban dari pertanyaanmu sendiri) trus kamu nyari-nyari? Entah dengan googling, baca buku, baca terjemahan Quran, buka Youtube atau bahkan pakai fitur 'search' di aplikasi Quran digital.
Saya pernah penasaran gimana sih biar kita tuh disayang Allah (itu pas ngerasa jauh sama Dia tapi kangen, maklum lah iman bisa up and down). Akhirnya saya manfaatkan teknologi yang ada. Salah satu aplikasi Al-Quran digital kan bisa nyari keyword yang kita masukkan nih. Saya masukkan aja keyword 'mencintai' untuk mencari jawaban pertanyaan tadi.
Voila! Ini hasilnya.
ALLAH MENCINTAI ORANG-ORANG YANG
❤ mencintai-Nya; cek QS 2: 165 & QS 3: 31
❤ menepati janji & bertaqwa; cek QS 3: 76
❤ bertaqwa & berbuat kebaikan; cek QS 3: 133-134. Bonus rincian bahwa bertaqwa itu ialah yang berinfak, menahan amarah, & memaafkan kesalahan orang lain.
❤ bersabar; cek QS 3: 146
❤ berbuat kebaikan; cek QS 3: 148
❤ bertawakkal; cek QS 3: 159
❤ berlaku adil; cek QS 49: 9 & QS 60: 8
❤ berjuang di jalan Allah dengan barisan yang TERATUR; cek QS 61: 4
Wow! Awesooome!
Tambah ngefans gak sih sama Qur'an? 😍 Tiap mau galau gitu nggak jadi deh, wong ternyata jawabannya udah ada tersedia di the Best Book ever, a must-read one. Pantesan ya, alim ulama gak sempet galau. Udah ngerti kudu ngapain & nyari di mana kalau galau.
So, masih galau? No way deh! Kapok... Hahaha...
Selasa, 11 Oktober 2016
Sabtu, 07 Februari 2015
Selebrasi Empat Belas Februari
Sebentar lagi tanggal 14 Februari, jatuh pada hari Sabtu pula. Pada hari itu (plus beberapa hari menjelang dan beberapa hari setelahnya pun) akan ada pernak pernik serba pink di toko-toko dan galeri mall disodorkan sebagai kado; akan ada bermacam-macam merk dan variasi coklat dijual promo; akan ada banyak tempat hiburan dan tempat makan belagak diskon dalam rangka hari Kasing Sayang; akan ada banyak muda mudi melakukan selebrasi; akan ada banyak event dan acara bertajuk kasih sayang atau cinta; akan ada banyak pemuda mengungkap cinta pada pujaannya, menganggap Valentine adalah momen tepat untuk 'hari jadian' mereka; bahkan bisa saja kondom-kondom laris terjual pada hari itu, maaf agak tabu lha katanya ini kan generasi frontal, kalimatnya dikiaskan diperhalus mah pasti diabaikan. Yaaa intinya akan ada banyak orang disibukkan dengan mengumbar cinta yang bukan pada tempatnya. Naudzubillah...
Senin, 05 Januari 2015
The Reason is You, Allah
Jumat, 26 Desember 2014
MENYAMPAIKAN DENGAN APAPUN KEBISAAN
Banyak yang lebih merespon posting tentang hidup dan kehidupan (misalnya prestasi, ungkapan perasaan, pengalaman, dsb) daripada posting-posting yang menyampaikan ilmu. Ini bukan ngawur, melainkan dari pengamatan kecil-kecilan tentang respon dari Masyarakat Facebook, baik itu posting saya sendiri maupun posting sesama anggota Masyarakat Facebook. Tidak mudah rasanya untuk bisa menyenangi ilmu bagi beberapa orang. Banyak orang masih melihat siapa yang menyampaikan, bukan apa yang disampaikannya. Sehingga banyak orang pula mengabaikan pesan-pesan baik dari orang yang bagi mereka ‘belum patut didengarkan’.
Banyak orang tersebut masih tak senang membaca ilmu dari mana saja, termasuk apa yang dituliskan temannya (apalagi di sosial media). Mereka hanya membaca apa yang ingin mereka baca. Dan itupun tergantung siapa yang menuliskannya. Mereka enggan membaca tulisan dari yang ‘bukan siapa-siapa’ dan memuji setinggi langit tulisan dari yang ‘sudah ternama’ meski secara isi sebenarnya sama saja. Banyak orang tersebut yang masih senang didengarkan, tapi tak mau mendengarkan (ah… mungkin terkadang saya juga masih termasuk di dalamnya). Sehingga mereka mengacuhkan apa yang orang lain katakan, dan menimpalinya dengan apa yang ingin mereka katakan. Alhasil, ilmu yang disampaikan terlewatkan, bahkan terpantulkan.
Di sisi lain, kita tetap berkewajiban untuk tetap 'menyampaikan', meski dengan apapun kesulitan.
Berdakwah dengan KOMIK.
Komik menjadi salah satu bacaan yang disukai banyak kalangan, apalagi remaja. Para penggemar komik jelas lebih suka membaca komik daripada bacaan lain. Jika kamu suka menggambar dan berkomik ria, dakwah pun bisa disampaikan melaluinya. Fanpage LINGKAR KOMIK (klik https://www.facebook.com/LingkarKomik) adalah salah satu komik dakwah Islam. Saat ini memiliki 25.476 penyuka, besar kan potensi penyampaiannya? (Never give it up ya mbak Asa, bang Zia, dan bang Tamam - para kontributornya). Masih banyak lho komik-komik dengan passion semacamnya, seperti KOMIK BIEBO dengan 10.534 penyuka (klik https://www.facebook.com/KomikBiebo, THE MUSLIM SHOW dengan 643.557 penyuka (klik https://www.facebook.com/themuslimshow) yang kini sudah ada versi Indonesia THE MUSLIM SHOW INDONESIA dengan 37.641 penyuka (klik https://www.facebook.com/muslimshowindonesia), NYOL NYOL COMICS dengan 4.482 penyuka (klik https://www.facebook.com/nyolnyolcomics), dan masih banyak lagi.
Berdakwah dengan DESAIN GRAFIS.
Desain grafis tengah menggeliat dan sedang hangat. Tidak hanya gambar, kombinasi tulisan aneka font yang dipadupadankan dengan pas bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi Masyarakat Facebook. Bahkan bisa dikatakan 'lebih menyampaikan' daripada ceramah di depan mimbar. Banyak akun yang telah menggunakan desain grafis untuk posting mereka. Contohnya
ALFATIH STUDIOS -- https://www.facebook.com/alfatihstudios
RENDRA VISUAL -- https://www.facebook.com/rendra.visual
MAHASISWA MUSLIM GADJAHMADA -- https://www.facebook.com/pages/Mahasiswa-Muslim-Gadjah-Mada
dan masih banyak lagi
Berdakwah dengan KOMUNITAS.
Dakwah juga bisa melalui komunitas. Kelompok kecil yang yang dirintis lama-lama membesar dan yang utama adalah bisa memberi dampak kemanfaatan. Jika kau mempunyai komunitas, kelolalah menjadi komunitas yang bermanfaat dalam kebaikan. Contohnya
GAPURA -- https://www.facebook.com/pages/Gapura/621458367906605
TERAS DAKWAH -- https://www.facebook.com/TerasDakwah
Berdakwah dengan MEDIA SOSIAL.
Mulai dari Facebook, Twitter, Path, Instagram, Google+, WhatsApp dan apapun itu sebenarnya bisa kita jadikan sarana dakwah. Bukankah akan lebih bermanfaat daripada menggunakan medsos untuk berkeluh kesah, ajang pamer, apalagi sebagai sarana menyebar fitnah. Naudzubillah. Ikuti akun-akun penebar kebaikan, sekalipun itu hanya akun milik teman. Bukankah lebih penting apa yang disampaikan bukan siapa yang menyampaikan. Selain itu juga isilah akunmu sendiri dengan posting berisi kebaikan sebagai ladang amal.
Berdakwah dengan BUKU.
Jika passionmu adalah menulis dan kamu sudah punya tulisan, 'nyata'kanlah tulisanmu dengan buku. Jika memang belum punya tulisan, jadikanlah 'buku impian'mu sebagai motivasi dan semangatmu untuk terus menulis. Saya tidak akan menyebutkan buku-buku dan penulis yang sudah bestseller. Saya justru ingin menghadirkan penulis-penulis yang bisa dikatakan pemula (tidak pemula sekali sih sebenarnya) agar kita terinspirasi. Fadil Ibnu Ahmad, menulis buku "DAKWAH ONLINE" saat statusnya masih menjadi mahasiswa (klik https://muslimgreget.com/). Begitupun Rizki Ageng Mardikawati yang menempuh jalan self-publishing untuk menerbitkan buku-bukunya dengan Pelangi Inspirasi (klik https://www.facebook.com/pages/Pelangi-Inspirasi/372920852886252). Mereka bisa, kamu pun bisa bila berjuang setidaknya sekeras mereka.
Berdakwah dengan CERPEN.
Jika memang belum bisa membuat buku atau novel, kamu bisa menulis yang lebih pendek, yaitu cerpen. Publish di blog dan atau ikutkan ke berbagai perlombaan agar bisa terpublikasikan. Syukur-syukur mendapat gelar kejuaraan. Selain itu, cerpen juga bisa digunakan untuk sarana latihan menulis kreatif/fiksi yang lebih kompleks seperti novel.
Berdakwah dengan KARTUN.
Jangan siakan bakatmu menggambar kartun kartun lucu, sesederhana apapun itu. Kartun bukan lagi milik anak-anak, tapi sesiapapun. Buktinya penyuka akun dan fanpage tentang Islam berikut sudah bejibun:
KARTUN MUSLIMAH -- https://www.facebook.com/DakwahMuslimah atau https://www.facebook.com/pages/Kartun-Muslimah/207391072659690
KARTUN DAKWAH -- https://www.facebook.com/pages/Kartun-Dakwah/463953940370323
Berdakwah dengan WEBSITE/BLOG/TUMBLR.
Suka menulis atau ingin menyampaikan tulisan yang kamu baca dari sumber lainnya? Buat saja website, atau blog yang lebih sederhana.
UMATMUHAMMAD.COM -- https://www.facebook.com/umatmuhammadcom atau umatmuhammad.com
MUSLIM.OR.ID -- https://www.facebook.com/muslim.or.id atau www.muslim.or.id
Jadi ada seribu jalan dakwah. Apapun hobinya, kita bisa mengoptimalkannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat sebab agama Islam bukan pengekang. Barangsiapa menolong agama Allah, Allah akan menolongnya. Begitu kan?!
Alangkah membahagiakan jika hobi dan keahlian kita dapat kita pergunakan untuk menyebarluaskan kemanfaatan. Alangkah beruntungnya bila hobi dan apa yang kita bisa dapat membantu kita semakin dekat dengan Jannah-Nya.
Sampaikan dengan apapun kebisaan. Hamasah!
*Ditulis untuk tugas perdana forum non-fiksi FLP Yogya. Silahkan sumbang saran dan kritikan diposkan di kolom komentar. Syukron.
Banyak orang tersebut masih tak senang membaca ilmu dari mana saja, termasuk apa yang dituliskan temannya (apalagi di sosial media). Mereka hanya membaca apa yang ingin mereka baca. Dan itupun tergantung siapa yang menuliskannya. Mereka enggan membaca tulisan dari yang ‘bukan siapa-siapa’ dan memuji setinggi langit tulisan dari yang ‘sudah ternama’ meski secara isi sebenarnya sama saja. Banyak orang tersebut yang masih senang didengarkan, tapi tak mau mendengarkan (ah… mungkin terkadang saya juga masih termasuk di dalamnya). Sehingga mereka mengacuhkan apa yang orang lain katakan, dan menimpalinya dengan apa yang ingin mereka katakan. Alhasil, ilmu yang disampaikan terlewatkan, bahkan terpantulkan.
Di sisi lain, kita tetap berkewajiban untuk tetap 'menyampaikan', meski dengan apapun kesulitan.
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةًMaka kita harus pandai-pandai menyampaikan dakwah dengan cara yang berbeda. Tidak perlu pusing dan muluk-muluk memikirkan bagaimana caranya, kita bisa mengambil cara yang dekat dengan kita dan kita sukai tentunya. Kita masih tetap bisa menyampaikan dengan hobi dan keahlian yang kita miliki. Memangnya bisa? Ya bisa saja. Tidak percaya? Ini sudah ada contoh-contohnya:
"Sampaikanlah walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari)
Berdakwah dengan KOMIK.
Komik menjadi salah satu bacaan yang disukai banyak kalangan, apalagi remaja. Para penggemar komik jelas lebih suka membaca komik daripada bacaan lain. Jika kamu suka menggambar dan berkomik ria, dakwah pun bisa disampaikan melaluinya. Fanpage LINGKAR KOMIK (klik https://www.facebook.com/LingkarKomik) adalah salah satu komik dakwah Islam. Saat ini memiliki 25.476 penyuka, besar kan potensi penyampaiannya? (Never give it up ya mbak Asa, bang Zia, dan bang Tamam - para kontributornya). Masih banyak lho komik-komik dengan passion semacamnya, seperti KOMIK BIEBO dengan 10.534 penyuka (klik https://www.facebook.com/KomikBiebo, THE MUSLIM SHOW dengan 643.557 penyuka (klik https://www.facebook.com/themuslimshow) yang kini sudah ada versi Indonesia THE MUSLIM SHOW INDONESIA dengan 37.641 penyuka (klik https://www.facebook.com/muslimshowindonesia), NYOL NYOL COMICS dengan 4.482 penyuka (klik https://www.facebook.com/nyolnyolcomics), dan masih banyak lagi.
Berdakwah dengan DESAIN GRAFIS.
Desain grafis tengah menggeliat dan sedang hangat. Tidak hanya gambar, kombinasi tulisan aneka font yang dipadupadankan dengan pas bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi Masyarakat Facebook. Bahkan bisa dikatakan 'lebih menyampaikan' daripada ceramah di depan mimbar. Banyak akun yang telah menggunakan desain grafis untuk posting mereka. Contohnya
ALFATIH STUDIOS -- https://www.facebook.com/alfatihstudios
RENDRA VISUAL -- https://www.facebook.com/rendra.visual
MAHASISWA MUSLIM GADJAHMADA -- https://www.facebook.com/pages/Mahasiswa-Muslim-Gadjah-Mada
dan masih banyak lagi
Berdakwah dengan KOMUNITAS.
Dakwah juga bisa melalui komunitas. Kelompok kecil yang yang dirintis lama-lama membesar dan yang utama adalah bisa memberi dampak kemanfaatan. Jika kau mempunyai komunitas, kelolalah menjadi komunitas yang bermanfaat dalam kebaikan. Contohnya
GAPURA -- https://www.facebook.com/pages/Gapura/621458367906605
TERAS DAKWAH -- https://www.facebook.com/TerasDakwah
Berdakwah dengan MEDIA SOSIAL.
Mulai dari Facebook, Twitter, Path, Instagram, Google+, WhatsApp dan apapun itu sebenarnya bisa kita jadikan sarana dakwah. Bukankah akan lebih bermanfaat daripada menggunakan medsos untuk berkeluh kesah, ajang pamer, apalagi sebagai sarana menyebar fitnah. Naudzubillah. Ikuti akun-akun penebar kebaikan, sekalipun itu hanya akun milik teman. Bukankah lebih penting apa yang disampaikan bukan siapa yang menyampaikan. Selain itu juga isilah akunmu sendiri dengan posting berisi kebaikan sebagai ladang amal.
Berdakwah dengan BUKU.
Jika passionmu adalah menulis dan kamu sudah punya tulisan, 'nyata'kanlah tulisanmu dengan buku. Jika memang belum punya tulisan, jadikanlah 'buku impian'mu sebagai motivasi dan semangatmu untuk terus menulis. Saya tidak akan menyebutkan buku-buku dan penulis yang sudah bestseller. Saya justru ingin menghadirkan penulis-penulis yang bisa dikatakan pemula (tidak pemula sekali sih sebenarnya) agar kita terinspirasi. Fadil Ibnu Ahmad, menulis buku "DAKWAH ONLINE" saat statusnya masih menjadi mahasiswa (klik https://muslimgreget.com/). Begitupun Rizki Ageng Mardikawati yang menempuh jalan self-publishing untuk menerbitkan buku-bukunya dengan Pelangi Inspirasi (klik https://www.facebook.com/pages/Pelangi-Inspirasi/372920852886252). Mereka bisa, kamu pun bisa bila berjuang setidaknya sekeras mereka.
Berdakwah dengan CERPEN.
Jika memang belum bisa membuat buku atau novel, kamu bisa menulis yang lebih pendek, yaitu cerpen. Publish di blog dan atau ikutkan ke berbagai perlombaan agar bisa terpublikasikan. Syukur-syukur mendapat gelar kejuaraan. Selain itu, cerpen juga bisa digunakan untuk sarana latihan menulis kreatif/fiksi yang lebih kompleks seperti novel.
Berdakwah dengan KARTUN.
Jangan siakan bakatmu menggambar kartun kartun lucu, sesederhana apapun itu. Kartun bukan lagi milik anak-anak, tapi sesiapapun. Buktinya penyuka akun dan fanpage tentang Islam berikut sudah bejibun:
KARTUN MUSLIMAH -- https://www.facebook.com/DakwahMuslimah atau https://www.facebook.com/pages/Kartun-Muslimah/207391072659690
KARTUN DAKWAH -- https://www.facebook.com/pages/Kartun-Dakwah/463953940370323
Berdakwah dengan WEBSITE/BLOG/TUMBLR.
Suka menulis atau ingin menyampaikan tulisan yang kamu baca dari sumber lainnya? Buat saja website, atau blog yang lebih sederhana.
UMATMUHAMMAD.COM -- https://www.facebook.com/umatmuhammadcom atau umatmuhammad.com
MUSLIM.OR.ID -- https://www.facebook.com/muslim.or.id atau www.muslim.or.id
Jadi ada seribu jalan dakwah. Apapun hobinya, kita bisa mengoptimalkannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat sebab agama Islam bukan pengekang. Barangsiapa menolong agama Allah, Allah akan menolongnya. Begitu kan?!
Alangkah membahagiakan jika hobi dan keahlian kita dapat kita pergunakan untuk menyebarluaskan kemanfaatan. Alangkah beruntungnya bila hobi dan apa yang kita bisa dapat membantu kita semakin dekat dengan Jannah-Nya.
Sampaikan dengan apapun kebisaan. Hamasah!
*Ditulis untuk tugas perdana forum non-fiksi FLP Yogya. Silahkan sumbang saran dan kritikan diposkan di kolom komentar. Syukron.
Jumat, 19 Desember 2014
EMBUN MATA PARA BUNGA
Sepasang itu lama tak mengakrabi-Nya
Mendoa pada-Nya tapi titah tak dilaksana
Sepasang itu jarang nian bercengkerama dengan-Nya
Sesekali hanya menyapa dengan sebuah pinta
Sepasang itu berbunga tiga
Bunga dengan kecantikan beda-beda
Satu bunga diantara tiga
Kuat mengharap kembalinya mereka pada takwa
Bunga-bunga mereka mekar
Satu memudar
Dua lainnya bagai lilin tengah berpendar
Melangitkan doa tiada pudar
Dari api naar semoga serumpun kan terhindar
Suatu kali sepasang itu memanjat pinta
entah berpinta apa
dengan cara beda dari biasa
Sepasang itu kini membumikan dahi bersama
tiap-tiap ada seruan-Nya
Mereka mendekati-Nya dengan lebih mesra
Bunga-bunga pun berbunga-bunga
Hingga tak terasa berjatuhan embun mata
Dalam dada tumbuh syukur yang tak terkata
[19122014]
Mendoa pada-Nya tapi titah tak dilaksana
Sepasang itu jarang nian bercengkerama dengan-Nya
Sesekali hanya menyapa dengan sebuah pinta
Sepasang itu berbunga tiga
Bunga dengan kecantikan beda-beda
Satu bunga diantara tiga
Kuat mengharap kembalinya mereka pada takwa
Bunga-bunga mereka mekar
Satu memudar
Dua lainnya bagai lilin tengah berpendar
Melangitkan doa tiada pudar
Dari api naar semoga serumpun kan terhindar
Suatu kali sepasang itu memanjat pinta
entah berpinta apa
dengan cara beda dari biasa
Sepasang itu kini membumikan dahi bersama
tiap-tiap ada seruan-Nya
Mereka mendekati-Nya dengan lebih mesra
Bunga-bunga pun berbunga-bunga
Hingga tak terasa berjatuhan embun mata
Dalam dada tumbuh syukur yang tak terkata
[19122014]
DIBASUH SUBUH
Kepasrahan telah menelanjangi kecewa
Menjadikannya hampir tiada
Segala keluh luruh seluruh
Dibasuh sang subuh
Luka-luka menguap ke angkasa
Dilucuti kejamnya keluguan doa
Aneka pinta terengkuh
Lalu terbilas dinginnya subuh
Harapan bening mengembun
Mengalahkan amarah yang naik ke ubun
Segala cita enggan runtuh
Makin menguat kala subuh
[19122014]
Menjadikannya hampir tiada
Segala keluh luruh seluruh
Dibasuh sang subuh
Luka-luka menguap ke angkasa
Dilucuti kejamnya keluguan doa
Aneka pinta terengkuh
Lalu terbilas dinginnya subuh
Harapan bening mengembun
Mengalahkan amarah yang naik ke ubun
Segala cita enggan runtuh
Makin menguat kala subuh
[19122014]
Senin, 15 Desember 2014
WASPADA RIYA' DAN UJUB!
Mungkin bukan demikian niatmu.
Namun, status-statusmu tentang ibadahmu bisa memangkas ikhlasmu,
bahkan bisa menghapus pahalamu.
Jika pun berDAKWAH,
tentu BUKAN dengan MENGUMBAR IBADAH.
Shalatmu, puasamu, sedekahmu, dan macam-macam ibadahmu itu,
biar saja hanya Dia yang tahu.
MERAPAT bukan MENGINJAK
Suatu kali saat berjamaah di masjid kampus, akwat disamping saya menginjak ujung kaki saya saat merapatkan shaf. Haikk... nyuutt. Mungkin tak sengaja, pikirku.Maka kala itu, ini belum menjadi masalah bagiku. Di kesempatan lain saat shalat, ternyata hal serupa terulang. Kali ini akhwat di samping saya terlambat satu rakaat. Dia merapatkan shaf dan nyuutt (sepertinya akhwat kali ini lebih besar dari yang kemarin). Saya sedikit menggeser kaki namun tetap menjaga kerapatan shaf. Namun rakaat berikutnya, dia kembali melakukan hal yang sama bahkan lebih melebarkan kakinya agar bisa mencapai ujung kakinya sampai terinjak. Well, jujur ini mengganggu kekhusyukan. Dan tiap berjamaah ada saja yang seperti itu. Bukannya saya tidak menghargai keberagaman, tapi yang seperti itu sedikit mengganggu bagi saya. Maklum kaki saya kecil, kalau diijak unjungnya oleh kaki yang seringnya memang lebih besar daripada saya, itu sangat terasa.
Saya tahu, niat beliau adalah untuk merapatkan shaf. Tapi sepanjang yang saya tahu, merapatkan shaf adalah dengan memastikan bahwa bahu menempel, mata kaki merapat, dan dianjurkan meluruskan shaf. Tidak harus sampai menginjak kan?
Jumat, 12 Desember 2014
RAHASIAKAN pinangan, UMUMKAN pernikahan
"RAHASIAKANkanlah pinangan, UMUMkanlah pernikahan." (HR. Ibnu Hibban 1285, Ath-Thabarani I: 1/69, dan lainnya)Itu sunnah Rasulullah. Maka jika mengganti status di Facebook menjadi bertunangan, tidak di'set 'private' artinya banyak orang bisa melihat, apakah itu bisa disebut merahasiakan??
Senin, 08 Desember 2014
Yang MENYENTUH Hati
Bentakan akan terlupakan,
kelemah-lembutan justru menelusuk ke hati terdalam.
Panjang kata dan omelan takkan dihiraukan,
makna mendalam di sepenggal kalimat singkat justru akan selalu diingat.
#AyoTerusBelajar
Senin, 10 November 2014
Subhanallah atau Masya Allah ??
"Subhanallah, cantiknya kamu sekarang..."
"Masya Allah, dia kok jahat banget sih"
Eits... ini nih. Kita orang Indonesia memang masih sering salah kaprah penggunaan kalimat-kalimat thoyibah. Yang seharusnya bilang MasyaAllah malah bilang Subhanallah... ckckck... saya juga, hehehe sudah kebiasaan sih. Tapi harus mau belajar ya, belajar membiasakan diri untuk mengucapkan yang benar.
Ini nih hasil browsing dan tanya-tanya tentang masing-masing artinya, simak yuk :)
Jumat, 07 November 2014
Yang Penting HALAL
"Ikhlas bagi Anda, HALAL bagi kami," begitulah pengamen itu menutup narasi singkatnya usai menyanyi.Dan kalimat itu memang memperlihatkan ideologi mereka yang mencari rejeki dengan profesi apapun YANG PENTING HALAL. Mereka lebih memilih berPANJANG suara, daripada berPANJANG TANGAN (::mencuri). Mungkin mereka memang dianggap tidak berpendidikan, tapi mereka lebih bermoral daripada orang-orang berpendidikan yang tidak memperdulikan halal-haram’nya rejeki yang diperolehnya. Jika semua insan (apalagi para muslim) berideologi sama, mungkin takkan ada pencuri, koruptor, maling, copet, dsb.
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." [QS. Al-Baqarah:168]
Rabu, 17 September 2014
[LIRIK] Your Mother - Yusuf Islam
Who should I give my love to?
My respect and my honour to
Who should I pay good mind to?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hold you
And clean you and clothe you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That's right no other
My mother
Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think the most of?
After Allah and Rasulullah
My respect and my honour to
Who should I pay good mind to?
After Allah and Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hold you
And clean you and clothe you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That's right no other
My mother
Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think the most of?
After Allah and Rasulullah
Selasa, 09 September 2014
IKHLAS vs RELA, karena mereka BERBEDA
Bedanya IKHLAS dan RELA itu apa?
Ikhlas itu penerimaan untuk melakukan DEMI Allah, tulus.
Misal berpuasa dengan ikhlas, shalatnya juga harus ikhlas, membantu orang tua dengan ikhlas, intinya semuanya karena Allah...
Kalau rela itu penerimaan untuk yang tentang makhluk, selain dari demi Allah.
Misalkan saat kehilangan sesuatu ya direlakan saja, bukan diikhlaskan Rela nunggu antrian BBM (bukan demi Allah kan? demi kepentingan dan kebutuhan sendiri), rela berkorban bukan ikhlas berkorban (berkorbannya kebanyakan demi selain Allah kan? demi makhluk kan? Demi bapak, demi ibu, demi adik, demi orang yang disayang, dll), rela menunggu bukan ikhlas menunggu (yang ditungguin orang kan?)
Terimakasih ilmunya, bagi yang telah memberitahu saya bahwa IKHLAS dan RELA itu BERBEDA
Semoga bermanfaat :) Mohon dikoreksi bila masih ada yang salah.
Ikhlas itu penerimaan untuk melakukan DEMI Allah, tulus.
Misal berpuasa dengan ikhlas, shalatnya juga harus ikhlas, membantu orang tua dengan ikhlas, intinya semuanya karena Allah...
Kalau rela itu penerimaan untuk yang tentang makhluk, selain dari demi Allah.
Misalkan saat kehilangan sesuatu ya direlakan saja, bukan diikhlaskan Rela nunggu antrian BBM (bukan demi Allah kan? demi kepentingan dan kebutuhan sendiri), rela berkorban bukan ikhlas berkorban (berkorbannya kebanyakan demi selain Allah kan? demi makhluk kan? Demi bapak, demi ibu, demi adik, demi orang yang disayang, dll), rela menunggu bukan ikhlas menunggu (yang ditungguin orang kan?)
Terimakasih ilmunya, bagi yang telah memberitahu saya bahwa IKHLAS dan RELA itu BERBEDA
Semoga bermanfaat :) Mohon dikoreksi bila masih ada yang salah.
Kamis, 14 Agustus 2014
Terlebih Dulu, Cintalah Pada-Nya
Wahai kau yang kusayang
Aku bukannya enggan menyayang
Yang aku takutkan adalah cinta yang berlebihan
Karena yang ku mau adalah cinta dalam balutan ketulusan
Kelak dari cinta itulah aku terikat dengan suci dalam pernikahan
Dan dari cinta itulah anak-anak cerdas dan sholeh ingin ku lahirkan
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan
Wahai kau yang kukasihi
Aku bukannya enggan berkasih-kasih
Aku takut Allah kita tak meridhoi
Karena aku tak ingin kasih sayang kita tanpa berkah
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan
Aku memang buruk
Mungkin seburuk-buruk manusia
Karena itulah, buah-buah cintaku kelak ingin kubina
Agar menyucikan cinta di hatinya
Dan menjadi sebaik-baik manusia
Untuk dirinya
Keluarganya
Dan umatnya
Jogja, Juni 2014
Aku bukannya enggan menyayang
Yang aku takutkan adalah cinta yang berlebihan
Karena yang ku mau adalah cinta dalam balutan ketulusan
Kelak dari cinta itulah aku terikat dengan suci dalam pernikahan
Dan dari cinta itulah anak-anak cerdas dan sholeh ingin ku lahirkan
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan
Wahai kau yang kukasihi
Aku bukannya enggan berkasih-kasih
Aku takut Allah kita tak meridhoi
Karena aku tak ingin kasih sayang kita tanpa berkah
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan
Mungkin seburuk-buruk manusia
Karena itulah, buah-buah cintaku kelak ingin kubina
Agar menyucikan cinta di hatinya
Dan menjadi sebaik-baik manusia
Untuk dirinya
Keluarganya
Dan umatnya
Jogja, Juni 2014
Rabu, 12 Februari 2014
MENYINGKIRLAH RAGU, PERUBAHAN BUTUH AWALAN
Bagi sahabat dan kawan-kawan muslimahku yang belum berhijab [tidak perlu saya
sebutkan satu per satu], yuk jangan ragu memulai, jangan ragu untuk berubah.
Apalagi untuk berubah menjadi lebih baik, insyaAllah.
Saya pun juga mengalami fase seperti yang kalian alami ketika SMA. Tapi
setelah melaksanakan kewajiban ini, saya menyesal. Menyesali kebodohan saya
yang tidak menyegerakan kewajiban ini. Jadi sebaiknya teman-teman mengakhiri
fase keraguan itu
Sedikit berbagi, sebelum saya memakai hijab di kelas 3 SMA, saya pun dilanda
ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang ternyata tidak terbukti.
Saya ragu, dan cemas. Waktu itu pemakai hijab belum semarak sekarang ini. Di
lingkungan rumah saya dan pada waktu itu, jilbab belum menjadi 'fashion' .
Dalam mindset masyarakat (menurut saya pada waktu itu), wanita yang berhijab
pasti mereka yang memiliki pengetahuan dan ilmu agama yang dalam. Itu yang
menyebabkan saya ragu. Saya merasa belum pantas memakainya. Alhamdulillah guru
PAI baru saya yang bernama Pak Hajali (pindahan dari Kalimantan) dihadirkan
oleh Allah pada saat yang tepat. Beliau menyadarkan saya bahwa berhijab adalah
kewajiban, tidak peduli berapa dalam ilmu keislaman yang kau miliki. Beliau
bacakan ayat suci Al-Qur'an (yang pada waktu itu memang saya baca, namun belum
saya pahami benar isinya) tentang QS.An-Nur:31, QS.AL AHZAB:59, QS.Al-Ahzab:36
(cari dan baca sendiri ya, supaya lebih meresapi dengan usaha sendiri), dan
ayat-ayat pendukung lain. "Kalaupun kamu masih banyak dosa dan melakukan
kejahilan dalam beragama, maka setidaknya kau telah melaksanakan kewajibanmu
sebagai muslimah, yaitu berhijab," begitu jawab beliau waktu saya
menyampaikan alasan keraguan saya. Dan horizon saya mulai terbuka, hati saya
mulai bergetar, saya pun meragukan keraguan saya. Saya mulai ingin memakai
jilbab. Saya ingin menjadi muslimah yang seharusnya. Meski niat telah tertanam
akhirnya, saya tidak bisa serta merta berubah.
Saya masih takut, khawatir. Bagaimana jika saya dicemooh oleh teman-teman?
Bagaimana jika saya digunjing tetangga bahwa jilbab hanya saya jadikan kedok?
(Karena pada waktu itu saya tidak se-'alim' mereka yang sudah berhijab dari
awal, yang lulusan pesantren atau sekolah berbasis Islam). Maka kembali saya
berkesah pada guru PAI saya. Dan jawaban beliau: "Lebih takut mana kamu
sama Allah atau tetangga dan kawan2mu? Lebih takut mana kamu sama Sang Pencipta
atau makhluk ciptaan-Nya? Lebih takut mana kamu dikucilkan oleh teman
sepermainan atau dikucilkan dari surga Allah?" Saya terdiam, berpikir dan
merenung. Benar, saya seharusnya lebih takut pada Rabb Maha Pencipta yang
memiliki saya. Keinginan itu menguat, namun lagi-lagi saya tidak bisa serta
merta berubah.
Saya tidak lagi ragu, tidak lagi cemas, tidak lagi khawatir dan takut. Tapi
saya bingung. Bagaimana saya harus demikian drastis berubah. Pakaian saya
sebelumnya jauh dari pakaian syar'i muslimah. Dari dulu saya memang tidak
seperti remaja jaman sekarang yang gemar memakai hotpants atau celana lengan
pendek dan singlet (kaos tanpa lengan). Tidak... itu sama sekali memang bukan
saya. Tapi saya memang masih memakai celana atau rok selutut dan kaos pendek.
Pun dalam hal rambut, saya sama sekali belum berjilbab kecuali dalam
acara-acara kerohanian. Bagi saya waktu itu, rambut adalah mahkota kebanggaan
wanita. Saya sangat 'sayang' pada rambut saya, maka saya mengganti-ganti
tatanan rambut ketika ke sekolah. Terkadang saya kepang, kadang saya ikat
belakang, tidak jarang saya ikat ke samping ala-ala gadis desa, sering juga
saya memakai bandana, dan yang paling saya gemari adalah rambut terurai
(aahh... bodohnya saya di masa remaja itu, sungguh saya sesali). Kala itu saya
jadi bingung, saya tidak punya seragam lengan panjang. Saya tidak punya banyak
koleksi jilbab. Saya juga tidak punya banyak baju/celana panjang untuk
digunakan sehari-hari di rumah. Lalu bagaimana? Untuk membeli banyak baju dan
jilbab serta menjahitkan seragam saya tidak punya cukup tabungan. Untuk meminta
orang tua, saya tahu pun itu tak akan tercukupkan. Maka saya konsultasikan lagi
kepada guru PAI saya. Singkat sekali tanggapan beliau, "Islam itu agama
yang sederhana, Allah tidak akan mempersulit umat-Nya." Masih bingung
dengan tanggapan beliau, saya 'curhat' ke beberapa teman dekat saya.
Alhamdulillah, benar kata pak Hajali. Allah mempermudah niat baik umat-Nya.
Teman saya yang lulusan pondok pesantren dan sudah dari SMP berhijab,
menawarkan saya beberapa seragam-seragamnya yang sudah kekecilan dan tidak
terpakai. Maklum, saya berpostur kecil dan pendek sedangkan dia berpostur
tinggi.
Bahagia tidak terkira saya utarakan niat yang sudah bulat kepada ibu dan bapak,
tentu saja mereka mendukung. Sungguh syukur alhamdulillah. Allah memudahkan
saya. Sejak saat itu secara bertahap saya berubah penampilan, berproses untuk
berhijab syar'i, bahkan hingga sekarang
Awalnya, sambil melengkapi seragam 'baru' saya yang masih kurang, di rumah saya
mulai menutup aurat dengan berpakaian serba panjang. Kalaupun masih pakai kaos
pendek, saya pakai jaket/sweater saja, walaupun belum berjilbab. Saya tidak
lagi pakai celana/rok selutut, tapi celana panjang hingga tumit.
Jilbab untuk seragam sudah siap, di rumah pun sudah mulai berhijab, namun
seragam saya kurang satu: atasan pramuka lengan panjang. Akhirnya setelah
liburan semester genap, saya nekat mulai berhijab ke sekolah. Atasan pramuka
tetap lengan pendek. Tapi saya atasi dengan memakai sweater tiap Jumat-Sabtu.
Taraaa... tidak kelihatan kan Hingga pernah suatu kali, Jum'at pagi
ada razia guru tatib sekolah. Segala kelengkapan atribut seragam diperiksa
mulai dari topi hingga sepatu. Beliau menegur saya, "Lepas jaketnya? Ndak
sakit kok jaketan terus! Jangan membuat saya menyangka yang tidak tidak."
Saya tegang, harus menjawab apa. Dan dengan lirih saya adukan ke beliau dengan
jujur bahwa saya memakai lengan pendek. Beliau setengah tidak percaya,
"Alasan!" Maka saya jawab dengan pertanyaan: "Pak, haruskah saya
tidak jadi berhijab hanya karena saya tidak punya seragam??" Beliau tanpa
kata pergi memeriksa siswa lain. Artinya saya diampuni. Alhamdulillah. Satu
lagi bukti bahwa Allah tidak pernah mempersulit hamba-Nya.
Satu tahun terakhir di SMA, saya terus sambil berbenah. Mulai dari berhijab
tapi pakaian masih ketat dan pakai celana, lalu mulai memakai yang lebih
longgar dan tidak memakai celana jeans, setelah itu di akhir-akhir mulai
memakai rok. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya lebih nyaman memakai rok
daripada celana. Saya pun menyadari, sampai sekarang cara berpakaian saya masih
harus terus diperbaiki. Yang jelas, saya bersyukur telah berani memulai. Karena
TANPA MEMULAI, SAYA TIDAK AKAN BERPROSES sampai sejauh ini. Kau tidak akan
berjalan jauh tanpa memulai SATU LANGKAH.
*special thanking untuk Pak Hajali yang telah menjadi jalan perantara hidayah
Allah bagi saya, yang membukakan hati dan menguatkan niat awal saya.
Teman-teman dan sahabatku, meskipun ini aib lamaku, aku tidak segan berbagi.
Ambillah ibrah (pelajaran) dari pengalamanku. Aku menyayangimu sebagai saudara
seiman. Semoga catatan kecil ini mengantarmu pada pencerahan hati dan pikiranmu
serta menyibak keraguanmu untuk menegakkan syariat Islam, agamamu. YUK BERHIJAB
Saudari seimanku, catatan ini akan menjadi sia-sia kecuali jika kau
mengindahkannya. Dengan apa? Dengan membuka hatimu sendiri untuk menerima ibrah
di dalamnya. Sebab, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka
merubah nasibnya sendiri.
YOU HAVE CHOICE AND IT'S YOUR RIGHT TO CHOOSE.
Keputusan ada di tanganmu.
Putuskanlah yang terbaik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.
Semoga bermanfaat
@DwisRiyuka
![]() |
| Jangan sampai KAIN KAFAN menjadi hijab kita yang pertama dan terakhir. Naudzubillah... |
![]() |
| Kenapa masih takut? Kenapa masih ragu? Apapun kesulitanmu, yakinlah Allah pasti akan mempermudah niat mulia umat-Nya. |
![]() |
| Aurat wanita itu seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan. Buruan tutup aurat kamu sebelum menyesal 'Kenapa gak dari dulu?' |
![]() |
| Introspeksi selalu. Sudah tahap berapa nih perubahanmu? |
![]() |
| Udah berjilbab sih. Tapi ternyata ada cara berjilbab yang kurang benar sesuai syariat. Yuk kita hindari berhijab model menyerupai 'punuk unta' |
![]() |
| Sudah berjilbab belum berarti sudah sempurna kan?? Hindari ini yang untuk menyempurnakan. INGAT, jilbab bukan tren fashion! |
![]() |
| Rambutnya panjang ya, Ukh? Yasudah... caranya kayak gini aja biar gak menyerupai punuk onta |
![]() |
| Singkatnya, terus perbaiki diri, hingga syar'i |
![]() |
| Kita yang sudah berhijab belum berarti sudah sempurna. Yuk kita koreksi diri dan luruskan niat untuk menyempurnakan. Terapkan checklist ini :) |
Sabtu, 18 Januari 2014
Yang Sedikit pun Nikmat
Bukan tentang seberapa besar yang kau dapatkan
Mungkin kawan-kawan di sana memang bisa lebih hebat sekarang
Kau pun bisa
Hanya saja kau harus dari awal memulainya
Nikmatilah proses itu karena kau memang harus melewatinya
Seperti kau harus melewati jembatan untuk menuju seberang
Kau memang harus merasakan hal-hal seperti ini juga
Sederhana, setidaknya dirimu sendirilah yang bangga berdiri di sana
Kelak, kau bisa menjadi seperti kawan-kawan lainnya
Berproseslah... Berusahalah...
Mimpi-mimpi yang masih berserakan itu, rapikanlah
Tekad yang sering mengendur itu, perbesarlah... Bulatkanlah
Man jadda wajadda
Bismillah... (^_^)J
Mungkin kawan-kawan di sana memang bisa lebih hebat sekarang
Kau pun bisa
Hanya saja kau harus dari awal memulainya
Nikmatilah proses itu karena kau memang harus melewatinya
Seperti kau harus melewati jembatan untuk menuju seberang
Kau memang harus merasakan hal-hal seperti ini juga
Sederhana, setidaknya dirimu sendirilah yang bangga berdiri di sana
Kelak, kau bisa menjadi seperti kawan-kawan lainnya
Berproseslah... Berusahalah...
Mimpi-mimpi yang masih berserakan itu, rapikanlah
Tekad yang sering mengendur itu, perbesarlah... Bulatkanlah
Man jadda wajadda
Bismillah... (^_^)J
| Bagian yang tak terlewatkan: prosesi pengabadian kenangan saat serah terima hadiah secara simbolis |
Senin, 28 November 2011
Ibu oh Ibu
Doa ibu kita mengalir bersama darah kita
menggumpal dalam daging kita
mendegup di jantung kita
menyelimuti kulit tubuh kita
menjuntai di tiap helai rambut kita
Dan...
menghembus bersama nafas kita...
Semoga Allah mengkaruniai nikmat sehat, rezeki, kedamaian hati, & khusnul khotimah padanya yang mengasihi kita dengan mulia atas izinNya...
Say it: I LOVE YOU COZ ALLAH, MOM
menggumpal dalam daging kita
mendegup di jantung kita
menyelimuti kulit tubuh kita
menjuntai di tiap helai rambut kita
Dan...
menghembus bersama nafas kita...
Semoga Allah mengkaruniai nikmat sehat, rezeki, kedamaian hati, & khusnul khotimah padanya yang mengasihi kita dengan mulia atas izinNya...
Say it: I LOVE YOU COZ ALLAH, MOM
Langganan:
Postingan (Atom)
























