Tampilkan postingan dengan label Pesan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2017

PESAN DIRI: Last Minute


Hei, Dwis di masa mendatang... Aku menulis ini saat menyadari sebuah kesalahan yang sering terulang bahkan sudah seperti kebiasaan. Semoga saat kau membaca ini, kebiasaan buruk ini sudah hilang sehingga membaca catatan ini cukup jadi kenangan, bukan lagi peringatan.

Kau di masa ini terbiasa mengerjakan sesuatu di waktu-waktu deadline hampir berakhir. Prakiraku, mungkin kebiasaan ini terbentuk saat masa-masa padat perkuliahan yang kau sambi mengurus organisasi dan bekerja. Saat itu kau seperti kejar-kejaran dengan deadline ini dan itu. Usai mengerjakan satu hal, pekerjaan lainnya sudah melambai-lambai. Deadline kerjaan, tugas kuliah, serta urusan organisasi seperti sudah antri mengular dan menuntutmu mengatur waktu sedemikian rupa. Wajar bila kau memang mengerjakan satu per satu di akhir waktu. 

Namun, aktivitasmu saat ini meski masih padat, tidaklah sepadat dulu. Kebiasaanmu itu tidak seharusnya masih berlaku. Hingga suatu hari, kau ditampar oleh pengalaman, sang guru terbaik.

3 Februari, hari terakhir melaksanakan KRS. Dan ternyata KRS-an semakin rumit administrasinya. Pertama, kau harus login ke repository untuk registrasi ulang. Lalu tertiba ada peraturan baru bahwa kau harus upload scan ijazah, SKHU, dan KK. Jika beres, barulah bisa login SIAKAD untuk mengisi KRS. Usai itu, kau harus cetak dan bertemu dengan PA.

Dan ingat apa yang terjadi? Tetiba semua semakin rumit saat ada kesalahan sedikit saja. Voila... repository untuk update data registrasi ulang error. Aneh... jelas-jelas tertera registrasi terakhir tanggal 3 namun tanggal 3 itu juga akses sudah dinonaktifkan. Aarrgh... Solusinya? Mau tak mau kau harus mengurus ke bagian IT dulu untuk membukanya. 

Akses sudah terbuka. File scan KK, ijazah, dan SKHU pun sudah siap untungnya (untuk masalah administratif yang ini sudah kau antisipasi sejak pertama datang ke Jogja, agar tidak merepotkan Ibu-Bapak untuk kirim-kirim atau malah kau harus bolak-bolik ke Malang). Namun kau lupa email studentmu apa. Email itu sebelumnya tidak disyaratkan dan tidak pernah terpakai sejak semester pertama. Belum lagi namanya sudah default dari kampus tapi passwordnya sudah pernah kau ganti sebagai syarat keamanan akun. Untungnya, ada pilihan "lupa password" yang dapat mengirim ke email aktif digunakan saat ini. Tapi ya tetep, ini ribet.

Begitu berhasil masuk dan selesai update data yang sebenarnya tidak ada perubahan namun harus mengisi ulang karena setting form yang baru, saatnya mengisi KRS. Untuk membuka KRS kau harus mengisi password dengan PIN yang diberikan di kwitansi pembayaran terakhir. Buka dompet, dan violaa...kwitansi tidak ada di tempatnya. Malah ada kwitansi semester-semester sebelumnya. Dompet sudah seminggu tidak dibuka karena tak ada uangnya, kok sekali buka dompet begini amat kejutannya. 

Okay, mau tak mau ke bank lagi minta cetak rekap. Eh ternyata tidak boleh, tapi tetap dicatatkan PIN untuk login. Pulanglah ke kos untuk akses karena di bank itu sinyal operatorku tidak bagus. Sampai kos, tetap tidak bisa dan salah log in. Hmmm... apa aku tadi salah dengar atau salah mencatat?? Tapi rasanya tidak. Yasudahlah, kembali ke bank yang lebih dekat, Kopma Core lantai 3. Well, sampai di sana kau dapat zonk, Dwis. Teller tidak mau memberi rekap walau sekedar PIN. Bank yang sama kok beda-beda aturannya sih?? Grrr...

Okay, saatnya ke rektorat bagian keuangan di lantai 3 buat lebih amannya. Fine, dengan 3 ribu rupiah. Rekap kwitansi ada di tangan. Waaa... berbinar-binarlah. Belajar dari apa yang terjadi di bank, langsung login aja pakai hape buat ngecek. Tapi, ternyata pttt hape lowbat. It's okay. Balik kos saja, sekalian kalau sudah login bisa segera sarapan di jam makan siang, pikirmu. Sungguh urusan KRS ini menguras tenaga dan emosi (alaaaayyy)

Sampai di kos zonk lagi. Kok tetap tidak bisa... Arrrgh...

Usut punya usut, setelah teman kos yang lebih berkepala dingin daripada yang sedang tidak karuan ini mengecek semua kwitansi spp di dompet, tahulah bahwa ternyata semua password yang dikasih bahkan yang dari rektorat itu adalah password semester lalu-lalu. 

Capek adek, baaaang, tapi ya mau bagaimana lagi. Balik rektorat lagi tapi harus dengan hape yang sudah terisi pastinya. 

Sampai sana, kau jelaskan bla bla bla. Bapak yang mengurusi dengan enteng jawab "Oo... nggak sinkron ini, Mbak, datanya." Bapaaaak... kan dari awal saya sudah matur ini mau buat login KRS jadi minta yang baru, kok nggak dipilihin dari tadiiii (njerit dalam hati). Udah lah, yang penting akhirnya 

Waktu sudah selesai semua urusan ini itu (dan sampai tertidur pulas di kamar teman kos saking capeknya) akhirnya bisa berpikir dingin lagi sambil mikir: 

Kenapa tak kau lakukan dari seminggu lalu, Dwis?? Kalau ada eror atau sesuatu hal yang jelas tidak diinginkan kan jadi tidak se-kemrungsung ini. Makanya ya, lain kali jangan mepet deadline. Trus truus, makin ribet tuh administrasi kampus, makanya ya cepet lulus! Apa mau mepet deadline juga lulusnya?!? Deerrr! 

Minggu, 18 September 2016

PESAN DIRI: Hidup dan Pilihan


Assalamu'alaikum, Dwis. Apa kabar hati? Apa kabar iman? Semoga baik dan semakin baik ya...

Sekarang kalender menunjukkan 16 Sept 2016. Kau dulu malu datang ke kajian pra-nikah, sebab kau takut dikira 'ngebet nikah'. Tapi sejak beberapa semester lalu, kau sudah tak lagi malu, alhamdulillah. Sebab kau berpikir bahwa kau tentu membutuhkan ilmu itu untuk mempersiapkan dirimu dan mempersiapkan diri mewujudkan suatu hal yang kau impikan, keluarga SMRB. Jadi masa bodoh saja orang mau bilang apa, yang menjalani juga kita.

Kali ini kau datang ke  

PESAN DIRI: Talk!


Assalamualaikum, Dwis... Apakah saat membaca ini kau sudah jadi orang yang lebih baik dari sekarang? Semoga deh ya... shahaha...

Hari ini, 15 Sept 2016, aku ingin mengingatkanmu pada rasa sungkanmu yang kadang berlebihan. Kadang kau jengkel sendiri pada sifatmu ini. Tapi kok ya tak kunjung berubah. Ya... Namanya udah watak memang susah diubah. Padahal sudah banyak kejadian merugikan yang kau alami karena sifatmu ini.

Ingat tentang klien alih bahasa-mu seorang S2 Teologi dari salah satu perguruan tinggi swasta itu? Karena rasa sungkanmu di awal-awal, sampai berbulan-bulan ini dia belum juga memenuhi kewajibannya padamu. Sebenarnya bukan karena nominal yang cukup besar (eh masalah juga sih itu, sayang juga kalau dilepas begitu saja, shahaha), tapi lebih karena itu justru menunjukkan kau belum bisa profesional. Nah kau di masa ini jadi kelabakan karena orang itu menghilang. Padahal kalau dari awal kau BICARA mungkin tak akan begitu kejadiannya.

Ingat jugakah bulan lalu kau menerima tawaran mengajar ekskul di sekolah swasta, tapi beliau lupa belum menjelaskan teknis hak & kewajibanmu, dan kau asal terima saja tanpa bertanya karena sungkan dan takut tidak sopan. Kau datang saja mengajar setiap minggunya. Kau bahkan tak tahu akan dibayar berapa. Yang dipikiranmu waktu itu hanya ingin berbaik sangka. Toh mengajar itu lebih dari profesi, tapi juga sudah seperti hobi.  Arrgh... aku tak tahu, sebenarnya sungkanmu itu sifat baik atau buruk. 

Dan malam ini, kau sedang mencoba bertanya. Merangkai kata entah berapa lamanya. Ketik hapus ketik hapus karena terlewat takut kurang sopan. Hingga akhirnya... terkirim juga. Ingatkah kau apa balasannya? Beliau justru meminta maaf karena lupa menjelaskan dan lupa mengabarkan bahwa hak-mu sudah siap diberikan/dikirimkan. See? Segala ragu dan tanya teratasi bila kita BICARA. Diam tak selamanya emas. Bukankah diamlah yang sering justru menjadi sumber kesalahpahaman. 

Jadi pesanku kali ini adalah bicarakan apa yang memang perlu kau bicarakan; sampaikan apa yang memang perlu kau sampaikan. Tak perlu risau tentang respon lawan bicaramu nantinya, asal kau sudah sopan dan tidak menyakiti, kau tidak salah. Apalagi kalau ini menyangkut hal profesional, kau memang sepatutnya BICARA



_Salam cinta dariku yang masih belajar demi baikmu saat ini.

#pesandiri | Dwis Riyuka | Janti, 15 September 2016

PESAN DIRI: Bertambah Usia


Assalamu'alaikum, Dwis.
Apa kabarmu hari ini? 

Hari ini 14 Sept 2016, hari Rabu tepatnya. Untuk perhitungan Masehi, kau berulang tahun hari ini. Ulang tahun yang ke-25. Wow! Seperempat abad sudah. Tak terasa ya. 

Seperti biasa, kau mengingat ulang tahunmu, tapi tak benar-benar ingin merayakannya. Biasanya kawan-kawan dekatmu lah yang membuatmu merayakannya, membawakan kue dihias lilin dan membuatmu tak bisa menolak tuk meniupnya. Kau yang sekarang memang labil dan tak tegas pada prinsipmu sendiri. Jauh di dasar hati, kau khawatir perayaan semacam itu tak sepatutnya dilakukan. Tapi untuk menghargai teman, kau tetap saja lakukan. Hanya pada beberapa orang saja kau berani menjelaskan.

Sebab itu, tahun ini kau memang berharap tak perlu ada yang ingat. Agar tak ada perayaan mubadzir yang justru membuatmu berhutang budi. Kau senang membuat kejutan, hadiah, atau hal-hal melankolis lain dalam mengingat ulang tahun kawanmu, tapi kau rikuh sendiri bila orang lain melakukannya padamu. Kau yang sekarang memang agak aneh... Shahaha...

Nah, apa yang kau pelajari di hari ulang tahunmu kali ini?

Kali ini kau melihat kawan yang sebenar-benar kawan. Kau tak berharap kawanmu merayakan hari di mana kau pertama menangis memasuki alam dunia, tapi kau tetap berharap kawan-kawan dekatmu sekadar ingat. Sebab menurutmu yang sekarang, itu hanya satu dari sekian indikator bahwa mereka benar-benar peduli padamu, karenanya mereka mepedulikan hal sesepele ulang tahunmu. Kali ini, kau tahu mana kawan yang memang mengingat hari spesialmu tanpa diingatkan oleh notifikasi sosial medianya, sebab kau telah mematikan dan menyembunyikannya tanggal kelahiran itu. Ya, akhirnya kau tahu kan, dari sekian banyak teman yang kau punya, hanya beberapa saja yang benar-benar bisa kau sebut SAHABAT. 

Hari ini kau juga belajar bahwa sebenarnya kau memang menyukai hal-hal sederhana. Kau lebih bahagia tanpa kue mewah dan kejutan meriah melainkan karena camilan ringan yang tertata seperti kejutan sederhana ala Naniraa (Bujiz). Apa kau ingat sekarang? Apa kau masih tertawa-tawa seperti waktu itu ketika mengingatnya? Apa kau juga menangis haru namun kau tutupi dengan tawamu seperti saat itu saat mengenangnya? Aku yakin, setidaknya kau tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan ini. 

Jadi pesanku kali ini, tetaplah dengan kesederhanaanmu. Segemilang apapun kau nantinya, tetaplah menyederhanakan alasan bahagia. Dan terhadap kawan baikmu, pandai-pandailah membahagiakan mereka, sebab mereka telah banyak membahagiakanmu. 


_Salam cinta dariku yang masih belajar demi baikmu saat ini.
#pesandiri | Dwis Riyuka | Janti, 14 September 2016

Sabtu, 17 September 2016

PESAN DIRI


Assalamu'alaikum, Dwis di masa mendatang. Kenalkan, aku ini Dwis di masa lalumu.

Mulai sekarang aku bertekad akan menulis pesan-pesan untukmu tentang pelajaran hidup yang kudapat sehari-hari. Mengapa?

Kelak hatimu pasti berubah-ubah, pemikiranmu pun juga. Perubahan bukanlah masalah. Setiap hal lazimnya memang berubah. Namun aku tidak ingin kau berubah tak lebih baik dari sebelumnya, kau akan merugi bahkan celaka seperti apa yang telah difirmankan-Nya. Karenanya kubuat pesan-pesan ini sebagai pengingatmu.

Suatu saat bila sedang bermasalah dengan nurani, bacalah pesan-pesan ini agar ingatanmu kembali, kesadaranmu pulih, dan hatimu terbaiki.

_Salam cinta dariku yang masih belajar demi baikmu saat ini.

#pesandiri | Dwis Riyuka | Janti, 17 September 2016