Tampilkan postingan dengan label Favoritku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Favoritku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

LANGIT SENJA

Taukah kau, terkadang menyukai sesuatu itu tak bersebab. Sebagaimana aku menyukai langit dan senja. Aku tak kan bisa menjawab saat kau tanya mengapa dan saat kau protes potret-potret langitku memenuhi beranda. Aku hanya akan mencari-cari alasan untuk menyukainya. Mungkin karena ia menghampar luas, dan aku berharap hatiku dapat selapang hamparannya. Mungkin karena ia selalu di atas, saat aku lelah merangkak di bawahnya. Mungkin karena terkadang ia teduh, berharap mata sinis yang kumiliki ini pun meneduh. Mungkin karena terkadang ia terang, sebagaimana ingin kusibak sudut-sudutku yang petang. Dan ratusan kemungkinan bisa saja kutulis tanpa jeda. Namun tanpa alasan yang kubuat-buat itu pun, aku tetap mencintai langit dan Yang Telah Menciptakannya.

©DwisRiyuka 

Kamis, 13 November 2014

Senin, 10 November 2014

Subhanallah atau Masya Allah ??

"Subhanallah, cantiknya kamu sekarang..."
"Masya Allah, dia kok jahat banget sih"
Eits... ini nih. Kita orang Indonesia memang masih sering salah kaprah penggunaan kalimat-kalimat thoyibah. Yang seharusnya bilang MasyaAllah malah bilang Subhanallah... ckckck... saya juga, hehehe sudah kebiasaan sih. Tapi harus mau belajar ya, belajar membiasakan diri untuk mengucapkan yang benar.

Ini nih hasil browsing dan tanya-tanya tentang masing-masing artinya, simak yuk :)

Kamis, 06 November 2014

Kamis, 11 September 2014

Sabtu, 23 Agustus 2014

MELUPAKAN -- Tere Liye

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Selasa, 19 Februari 2013

Nasehat Perantauan - Imam Syafi'i


Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa SETELAH berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena DIAM tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak ditinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam,
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Imam Syafi'i
(767-820 M)

*Semoga dapat diambil hikmah dan pelajaran sehingga engkau semua termotivasi, Kawan*