Minggu, 18 September 2016

PESAN DIRI: Bertambah Usia


Assalamu'alaikum, Dwis.
Apa kabarmu hari ini? 

Hari ini 14 Sept 2016, hari Rabu tepatnya. Untuk perhitungan Masehi, kau berulang tahun hari ini. Ulang tahun yang ke-25. Wow! Seperempat abad sudah. Tak terasa ya. 

Seperti biasa, kau mengingat ulang tahunmu, tapi tak benar-benar ingin merayakannya. Biasanya kawan-kawan dekatmu lah yang membuatmu merayakannya, membawakan kue dihias lilin dan membuatmu tak bisa menolak tuk meniupnya. Kau yang sekarang memang labil dan tak tegas pada prinsipmu sendiri. Jauh di dasar hati, kau khawatir perayaan semacam itu tak sepatutnya dilakukan. Tapi untuk menghargai teman, kau tetap saja lakukan. Hanya pada beberapa orang saja kau berani menjelaskan.

Sebab itu, tahun ini kau memang berharap tak perlu ada yang ingat. Agar tak ada perayaan mubadzir yang justru membuatmu berhutang budi. Kau senang membuat kejutan, hadiah, atau hal-hal melankolis lain dalam mengingat ulang tahun kawanmu, tapi kau rikuh sendiri bila orang lain melakukannya padamu. Kau yang sekarang memang agak aneh... Shahaha...

Nah, apa yang kau pelajari di hari ulang tahunmu kali ini?

Kali ini kau melihat kawan yang sebenar-benar kawan. Kau tak berharap kawanmu merayakan hari di mana kau pertama menangis memasuki alam dunia, tapi kau tetap berharap kawan-kawan dekatmu sekadar ingat. Sebab menurutmu yang sekarang, itu hanya satu dari sekian indikator bahwa mereka benar-benar peduli padamu, karenanya mereka mepedulikan hal sesepele ulang tahunmu. Kali ini, kau tahu mana kawan yang memang mengingat hari spesialmu tanpa diingatkan oleh notifikasi sosial medianya, sebab kau telah mematikan dan menyembunyikannya tanggal kelahiran itu. Ya, akhirnya kau tahu kan, dari sekian banyak teman yang kau punya, hanya beberapa saja yang benar-benar bisa kau sebut SAHABAT. 

Hari ini kau juga belajar bahwa sebenarnya kau memang menyukai hal-hal sederhana. Kau lebih bahagia tanpa kue mewah dan kejutan meriah melainkan karena camilan ringan yang tertata seperti kejutan sederhana ala Naniraa (Bujiz). Apa kau ingat sekarang? Apa kau masih tertawa-tawa seperti waktu itu ketika mengingatnya? Apa kau juga menangis haru namun kau tutupi dengan tawamu seperti saat itu saat mengenangnya? Aku yakin, setidaknya kau tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan ini. 

Jadi pesanku kali ini, tetaplah dengan kesederhanaanmu. Segemilang apapun kau nantinya, tetaplah menyederhanakan alasan bahagia. Dan terhadap kawan baikmu, pandai-pandailah membahagiakan mereka, sebab mereka telah banyak membahagiakanmu. 


_Salam cinta dariku yang masih belajar demi baikmu saat ini.
#pesandiri | Dwis Riyuka | Janti, 14 September 2016

Sabtu, 17 September 2016

PESAN DIRI


Assalamu'alaikum, Dwis di masa mendatang. Kenalkan, aku ini Dwis di masa lalumu.

Mulai sekarang aku bertekad akan menulis pesan-pesan untukmu tentang pelajaran hidup yang kudapat sehari-hari. Mengapa?

Kelak hatimu pasti berubah-ubah, pemikiranmu pun juga. Perubahan bukanlah masalah. Setiap hal lazimnya memang berubah. Namun aku tidak ingin kau berubah tak lebih baik dari sebelumnya, kau akan merugi bahkan celaka seperti apa yang telah difirmankan-Nya. Karenanya kubuat pesan-pesan ini sebagai pengingatmu.

Suatu saat bila sedang bermasalah dengan nurani, bacalah pesan-pesan ini agar ingatanmu kembali, kesadaranmu pulih, dan hatimu terbaiki.

_Salam cinta dariku yang masih belajar demi baikmu saat ini.

#pesandiri | Dwis Riyuka | Janti, 17 September 2016

Kamis, 18 Agustus 2016

JATUH


Jatuh. Setiap jatuh itu mengingatkan. Setiap jatuh adalah teguran. Setiap jatuh mempunyai pembelajaran. Setiap jatuh mengandung ujian. Bila demikian, harusnya tak ada jatuh yang menjadi musibah, sebab dalam setiap jatuh selalu ada ibrah. Setiap jatuh akan mempunyai makna, bergantung pada perenungan kita.

Apapun jatuh yang tengah kau alami, menguatlah dengannya. Entah itu jatuh celaka, jatuh cinta, jatuh bangkrut, jatuh miskin, jatuh pilu, dan segala macam jatuh yang menyakitkan awalnya, buatlah itu menjadi pupuk bagi pertumbuhan hati dan akalmu pada akhirnya. Buktikan setidaknya pada dirimu sendiri, bahwa kau mampu menangkap pengingat yang Dia berikan, sanggup menerima teguran-Nya dengan dada yang lapang, dapt berkaca pada pembelajaran yang darinya kau dapatkan, dan bisa melalui ujian yang menyertai setiap kejatuhan.

Setiap jatuhmu adalah untuk bangun.

Dwis Riyuka | 20160817
*Credit to Martin Stranka (thanks for the nice photograph I made as background)

Jumat, 24 Juni 2016

THROWBACK 2014

Tuhan memberi jalan lewat teguran, lewat kesedihan, lewat kekurangan, lewat kemiskinan, lewat kesulitan, lewat perpisahan, lewat kegagalan, pun lewat hal-hal lain yang menyakitkan hanya demi mengembalikan arah kita yang terlanjur terbelokkan. Bukan karena Dia Sang Maha yang bisa semena-mena, namun karena begitulah cara mendidik umat-Nya. Allah memberi jalan agar kita kembali pada arah kebaikan, pada jalan yang membahagiakan.

Waktu sungguh cepat berlalu, ingatanku kini terpaku di angka 2014. Tahun berkesan itu sudah dua kali berganti ekor angkanya. Bagiku tahun 2014 adalah tahun penuh keberkahan, tahun di mana aku dikembalikan dari kubangan ketidak-tahuan yang menyeretku jauh menuju kesia-siaan. Tahun 2014 aku diselamatkan dari kehilafanku melupakan dan mencampakan impian. Tahun yang mengubah banyak hal yang kulalui hari ini. Tahun yang kusyukuri namun juga membuatku menyesali tahun sebelumnya.

Kepada tahun 2014 dan segala memori di dalamnya, dimohon dengan sangat jangan lagi mengusik pikiran ini.
This entry was posted in

LANGIT SENJA

Taukah kau, terkadang menyukai sesuatu itu tak bersebab. Sebagaimana aku menyukai langit dan senja. Aku tak kan bisa menjawab saat kau tanya mengapa dan saat kau protes potret-potret langitku memenuhi beranda. Aku hanya akan mencari-cari alasan untuk menyukainya. Mungkin karena ia menghampar luas, dan aku berharap hatiku dapat selapang hamparannya. Mungkin karena ia selalu di atas, saat aku lelah merangkak di bawahnya. Mungkin karena terkadang ia teduh, berharap mata sinis yang kumiliki ini pun meneduh. Mungkin karena terkadang ia terang, sebagaimana ingin kusibak sudut-sudutku yang petang. Dan ratusan kemungkinan bisa saja kutulis tanpa jeda. Namun tanpa alasan yang kubuat-buat itu pun, aku tetap mencintai langit dan Yang Telah Menciptakannya.

©DwisRiyuka 

Sabtu, 11 Juni 2016

KEBETULAN? INI BANTUAN

Menulis itu "sesuatu" banget ya. Duh... bingung kudu pake diksi apa yang pas selain vocab dari Syahrini itu. Intinya ya itu, sesuatu, hahaha... Pokoknya semangat nulis tuh naik turun kayak iman deh. Kadang demen banget nulis, kadang ogah-ogahan. Bahkan di saat inspirasi bertebaran, kadang nulisnya males. That's maybe one of the reason why I cannot post on this blog regularly. Tapi Allah itu Maha Pengertian. Saat aku males nulis, ada aja yang kesempatan ini itu yang Dia bikin aku tergerak nulis lagi. Nggak ada kebetulan kan ya?

RAMADHAN ALA MASJID KAMPUNG JOGOKARIYAN

Suatu kali di bulan ramadhan, aku dan seorang temanku menuju bagian selatan Yogyakarta, Jalan Parangtritis lebih tepatnya. Masih di kilometer awal-awal, kami berbelok ke Jalan Jogokariyan di mana Masjid Jogokariyan megah berdiri di sisi kiri jalan. Ya, itulah Masjid tujuan kami.