Kamis, 18 Agustus 2016

JATUH


Jatuh. Setiap jatuh itu mengingatkan. Setiap jatuh adalah teguran. Setiap jatuh mempunyai pembelajaran. Setiap jatuh mengandung ujian. Bila demikian, harusnya tak ada jatuh yang menjadi musibah, sebab dalam setiap jatuh selalu ada ibrah. Setiap jatuh akan mempunyai makna, bergantung pada perenungan kita.

Apapun jatuh yang tengah kau alami, menguatlah dengannya. Entah itu jatuh celaka, jatuh cinta, jatuh bangkrut, jatuh miskin, jatuh pilu, dan segala macam jatuh yang menyakitkan awalnya, buatlah itu menjadi pupuk bagi pertumbuhan hati dan akalmu pada akhirnya. Buktikan setidaknya pada dirimu sendiri, bahwa kau mampu menangkap pengingat yang Dia berikan, sanggup menerima teguran-Nya dengan dada yang lapang, dapt berkaca pada pembelajaran yang darinya kau dapatkan, dan bisa melalui ujian yang menyertai setiap kejatuhan.

Setiap jatuhmu adalah untuk bangun.

Dwis Riyuka | 20160817
*Credit to Martin Stranka (thanks for the nice photograph I made as background)

Jumat, 24 Juni 2016

THROWBACK 2014

Tuhan memberi jalan lewat teguran, lewat kesedihan, lewat kekurangan, lewat kemiskinan, lewat kesulitan, lewat perpisahan, lewat kegagalan, pun lewat hal-hal lain yang menyakitkan hanya demi mengembalikan arah kita yang terlanjur terbelokkan. Bukan karena Dia Sang Maha yang bisa semena-mena, namun karena begitulah cara mendidik umat-Nya. Allah memberi jalan agar kita kembali pada arah kebaikan, pada jalan yang membahagiakan.

Waktu sungguh cepat berlalu, ingatanku kini terpaku di angka 2014. Tahun berkesan itu sudah dua kali berganti ekor angkanya. Bagiku tahun 2014 adalah tahun penuh keberkahan, tahun di mana aku dikembalikan dari kubangan ketidak-tahuan yang menyeretku jauh menuju kesia-siaan. Tahun 2014 aku diselamatkan dari kehilafanku melupakan dan mencampakan impian. Tahun yang mengubah banyak hal yang kulalui hari ini. Tahun yang kusyukuri namun juga membuatku menyesali tahun sebelumnya.

Kepada tahun 2014 dan segala memori di dalamnya, dimohon dengan sangat jangan lagi mengusik pikiran ini.
This entry was posted in

LANGIT SENJA

Taukah kau, terkadang menyukai sesuatu itu tak bersebab. Sebagaimana aku menyukai langit dan senja. Aku tak kan bisa menjawab saat kau tanya mengapa dan saat kau protes potret-potret langitku memenuhi beranda. Aku hanya akan mencari-cari alasan untuk menyukainya. Mungkin karena ia menghampar luas, dan aku berharap hatiku dapat selapang hamparannya. Mungkin karena ia selalu di atas, saat aku lelah merangkak di bawahnya. Mungkin karena terkadang ia teduh, berharap mata sinis yang kumiliki ini pun meneduh. Mungkin karena terkadang ia terang, sebagaimana ingin kusibak sudut-sudutku yang petang. Dan ratusan kemungkinan bisa saja kutulis tanpa jeda. Namun tanpa alasan yang kubuat-buat itu pun, aku tetap mencintai langit dan Yang Telah Menciptakannya.

©DwisRiyuka 

Sabtu, 11 Juni 2016

KEBETULAN? INI BANTUAN

Menulis itu "sesuatu" banget ya. Duh... bingung kudu pake diksi apa yang pas selain vocab dari Syahrini itu. Intinya ya itu, sesuatu, hahaha... Pokoknya semangat nulis tuh naik turun kayak iman deh. Kadang demen banget nulis, kadang ogah-ogahan. Bahkan di saat inspirasi bertebaran, kadang nulisnya males. That's maybe one of the reason why I cannot post on this blog regularly. Tapi Allah itu Maha Pengertian. Saat aku males nulis, ada aja yang kesempatan ini itu yang Dia bikin aku tergerak nulis lagi. Nggak ada kebetulan kan ya?

RAMADHAN ALA MASJID KAMPUNG JOGOKARIYAN

Suatu kali di bulan ramadhan, aku dan seorang temanku menuju bagian selatan Yogyakarta, Jalan Parangtritis lebih tepatnya. Masih di kilometer awal-awal, kami berbelok ke Jalan Jogokariyan di mana Masjid Jogokariyan megah berdiri di sisi kiri jalan. Ya, itulah Masjid tujuan kami.

Minggu, 22 Mei 2016

MEMASAK; Hijrah dari Ogah menjadi Doyan Parah

Foto alay hasil belajar masak yang terunggah di medsos.

Dulu semasa masih sekolah dan tinggal di rumah, aku paling malas jika diminta  membantu ibu masak, aku akan lebih memilih membantu beres-beres atau bersih-bersih rumah. Bagiku waktu itu, kepuasan melihat sesuatu yang tadinya kotor & berantakan berubah jadi bersih & rapi itu lebih menyenangkan daripada harus berkutat dengan dapur dan aneka bumbu-bumbuan. Alhasil, aku tidak pernah memasak yang benar-benar memasak, hanya terkadang membantu Ibu mengiris/mengulek bumbu. Padahal, sebenarnya, masa itu adalah kesempatan emas berguru pada Ibu yang bakat masak enak menurun bakat nenekku. Malah Bapak pun pernah bilang sebenarnya aku juga bakat masak seperti Ibu setelah beliau makan masakanku (saat ada momen "terpaksa masak" menggantikan ibu yang tengah sakit kala itu). Namun tetap saja, aku enggan mengasahnya hingga 'bakat' itu sepertinya tak mungkin lagi menurun kepadaku.

Namun sesuatu yang bernama waktu menjadi sarana Tuhan memutarbalikkan keadaan. Allah rupanya menakdirkan aku hidup jauh dari ibu terdampar di luasnya bumi perantauan. Perantauan ini salah satunya membuatku sadar bahwa aku harus bisa memasak sendiri.

Senin, 04 April 2016

IBU: WONDER WOMAN DI DUNIA NYATA

 
Secara fisik, lelaki memiliki kekuatan yang lebih dari wanita. Dari segi postur tubuh dan susunan tulang pun, lelaki memiliki kelebihan dibandingkan dengan wanita secara biologis. Namun pada kenyataannya, banyak sekali kisah-kisah wanita dengan kekuatan luar biasa melebihi kekuatan fisik laki-laki yang menjungkirbalikkan fakta pada umumya. Kekuatan wanita-wanita itu bersumber dari kekuatan hati. Bisa jadi, dengan keteguhan hati mereka, maka fisik itu menjadi lebih kuat atau dikuat-kuatkan. Pernahkah kau dengar kisah-kisah wanita melahirkan anak kembar sebanyak 4, 6, atau bahkan 8? Ahli medis mengungkapkan rasa sakit yang dialami oleh ibu melahirkan adalah 57 del (satuan rasa sakit) yang setara dengan rasa sakit jika 20 tulang patah bersamaan, sementara rasa sakit yang mampu ditahan oleh laki-laki hanya sampai 45 del lebih dari itu ia akan mati. Maka aku tak heran jika Tuhan menjanjikan surga bagi para ibu yang gugur di medan “perang” melawan rasa sakitnya melahirkan.