Sabtu, 23 Agustus 2014

Sajak DUATIGA : DUATIGA

Sajak "DUATIGA:DUATIGA"

"23:23." kata si penanda waktu
"Lalu apa maumu?" begitu jawabku

Tak ada istimewa di angka kembar macam itu
Meski banyak yg menyakralkannya
Seolah ia memiikul peruntungan berjuta-juta
Bahkan mereka pejam mata lalu berdoa
Meminta ini itu seperti saat melihat bintang jatuh saja

Ah... keduanya semu saja
Keduanya tak perlu dipercaya
Jika kau mau mendoa
Bersujudlah lima kali dalam seharinya
Juga di sepertiga malam terakhir-Nya

Ah... 23:23 sama saja dengan 03:03
Sama pula dengan jam dan menit kembar lainnya

#DR | 21 Agustus 2014

MELUPAKAN -- Tere Liye

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

PASSIONMU MEMBESARKANMU

Passion itu tidak bisa dipaksakan. Seharusnya ini bukan lagi masa penjajakan, bukan lagi masa pencarian minat-bakat dan tujuan. Tapi sudah saatnya fokus mengoptimalkan apa yang sudah dimiliki.
Buktinya:

>> Raditya Dika passionnya bukan di finance, tapi menulis. Buktinya bisa tuh jadi penulis keren, gak akan sekeren sekarang kalau dipaksakan di bidang lain.

>> Walt Disney, menurut atasannya di koran Kansas City Star, “imajinasinya kurang dan tidak punya ide bagus.” Nyatanya ia punya serial kartun populer yang legendaris hingga kini. Gak akan selegendaris itu kalau dipaksakan di bidang lain.

>> JK Rowling pernah bekerja sebagai sekretaris di kantor Amnesti Internasional London sambil bermimpi menjadi seorang penulis. Secara diam-diam ia menulis cerita di komputer kantornya. Setelah dipecat, dia menjadi penulis terkenal "Harry Potter". Gak akan seterkenal itu jika dipaksakan di bidang lain.

>> Madonna pernah bekerja di Dunkin Donuts dan berpindah-pindah dari restoran cepat saji satu ke lainnya. Tapi akhirnya memulai karir bermusiknya dan lihat saja, ia menjadi diva di jamannya. Gak akan setenar itu kalau dipaksakan di bidang lainnya.

Apapun bidang passionmu, fokus dan tekunilah. Hal itu yang akan membesarkanmu.

Senin, 18 Agustus 2014

UJIAN [SEKOLAHAN vs KEHIDUPAN]

Jika dipikir-pikir:
1. Menghadapi ujian sekolah / ujian kuliah itu biasa. Menghadapi ujian hidup itu luar biasa.
2. Soal dalam ujian sekolah / ujian kuliah itu dari yang sudah diajarkan sebelumnya. Permasalahan dalam ujian hidup justru yang belum pernah didapat sebelumnya.
3. Waktu ujian sekolah / ujian kuliah, kita dilarang salah. Waktu ujian kehidupan, kesalahan itu wajar dan justru membuat kita belajar.
4. Ujian sekolah / ujian kuliah sudah terjadwal waktunya kapan. Ujian kehidupan waktunya ya entah kapan.
5. Ujian sekolah / ujian kuliah untuk bersama-sama secara klasikal. Ujian hidup ya untuk diri sendiri secara individu alias spesial.
6. Di kuliah / sekolah, kita menerima pelajaran dulu, baru deh ujian. Di kehidupan, diuji dulu baru deh mendapat hikmah/pelajaran.

Benar kan??

Kamis, 14 Agustus 2014

Terlebih Dulu, Cintalah Pada-Nya

Wahai kau yang kusayang
Aku bukannya enggan menyayang
Yang aku takutkan adalah cinta yang berlebihan
Karena yang ku mau adalah cinta dalam balutan ketulusan
Kelak dari cinta itulah aku terikat dengan suci dalam pernikahan
Dan dari cinta itulah anak-anak cerdas dan sholeh ingin ku lahirkan
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan

Wahai kau yang kukasihi
Aku bukannya enggan berkasih-kasih
Aku takut Allah kita tak meridhoi
Karena aku tak ingin kasih sayang kita tanpa berkah
Maka marilah kita bersabar
Sebelum tiba saatnya dipersatukan

Aku memang buruk
Mungkin seburuk-buruk manusia
Karena itulah, buah-buah cintaku kelak ingin kubina
Agar menyucikan cinta di hatinya
Dan menjadi sebaik-baik manusia
Untuk dirinya
Keluarganya
Dan umatnya

Jogja, Juni 2014

MATI KUTU

"Mati Kutu" ilustrated by Dwis Riyuka

Kubunuhi satu persatu kutu-kutu rindu di benakku
agar tak lagi mengganggu bahagiaku
tersebab ia tak lagi layak untukku
tersebab merindumu terlarang sudah bagiku

Tapi sungguh mereka terlalu banyak
Beranak pinak menyesak

Aahh... mati sudah kutu-kutu rinduku
satu per satu
Rasaku padamu perlahan mati diluruh kecewa
Alasan derasnya tangisan
bukan lagi karena rindu yang tak tersampaikan
tapi karena kecewa yang memuncak menghujam

#DR
Pgj, 140814

Rabu, 12 Februari 2014

MENYINGKIRLAH RAGU, PERUBAHAN BUTUH AWALAN

 YUK BERHIJAB, YUK BERUBAH (menjadi lebih baik)

Bagi sahabat dan kawan-kawan muslimahku yang belum berhijab [tidak perlu saya sebutkan satu per satu], yuk jangan ragu memulai, jangan ragu untuk berubah. Apalagi untuk berubah menjadi lebih baik, insyaAllah.

Saya pun juga mengalami fase seperti yang kalian alami ketika SMA. Tapi setelah melaksanakan kewajiban ini, saya menyesal. Menyesali kebodohan saya yang tidak menyegerakan kewajiban ini. Jadi sebaiknya teman-teman mengakhiri fase keraguan itu 

Sedikit berbagi, sebelum saya memakai hijab di kelas 3 SMA, saya pun dilanda ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang ternyata tidak terbukti.

Saya ragu, dan cemas. Waktu itu pemakai hijab belum semarak sekarang ini. Di lingkungan rumah saya dan pada waktu itu, jilbab belum menjadi 'fashion'  . Dalam mindset masyarakat (menurut saya pada waktu itu), wanita yang berhijab pasti mereka yang memiliki pengetahuan dan ilmu agama yang dalam. Itu yang menyebabkan saya ragu. Saya merasa belum pantas memakainya. Alhamdulillah guru PAI baru saya yang bernama Pak Hajali (pindahan dari Kalimantan) dihadirkan oleh Allah pada saat yang tepat. Beliau menyadarkan saya bahwa berhijab adalah kewajiban, tidak peduli berapa dalam ilmu keislaman yang kau miliki. Beliau bacakan ayat suci Al-Qur'an (yang pada waktu itu memang saya baca, namun belum saya pahami benar isinya) tentang QS.An-Nur:31, QS.AL AHZAB:59, QS.Al-Ahzab:36 (cari dan baca sendiri ya, supaya lebih meresapi dengan usaha sendiri), dan ayat-ayat pendukung lain. "Kalaupun kamu masih banyak dosa dan melakukan kejahilan dalam beragama, maka setidaknya kau telah melaksanakan kewajibanmu sebagai muslimah, yaitu berhijab," begitu jawab beliau waktu saya menyampaikan alasan keraguan saya. Dan horizon saya mulai terbuka, hati saya mulai bergetar, saya pun meragukan keraguan saya. Saya mulai ingin memakai jilbab. Saya ingin menjadi muslimah yang seharusnya. Meski niat telah tertanam akhirnya, saya tidak bisa serta merta berubah.

Saya masih takut, khawatir. Bagaimana jika saya dicemooh oleh teman-teman? Bagaimana jika saya digunjing tetangga bahwa jilbab hanya saya jadikan kedok? (Karena pada waktu itu saya tidak se-'alim' mereka yang sudah berhijab dari awal, yang lulusan pesantren atau sekolah berbasis Islam). Maka kembali saya berkesah pada guru PAI saya. Dan jawaban beliau: "Lebih takut mana kamu sama Allah atau tetangga dan kawan2mu? Lebih takut mana kamu sama Sang Pencipta atau makhluk ciptaan-Nya? Lebih takut mana kamu dikucilkan oleh teman sepermainan atau dikucilkan dari surga Allah?" Saya terdiam, berpikir dan merenung. Benar, saya seharusnya lebih takut pada Rabb Maha Pencipta yang memiliki saya. Keinginan itu menguat, namun lagi-lagi saya tidak bisa serta merta berubah.

Saya tidak lagi ragu, tidak lagi cemas, tidak lagi khawatir dan takut. Tapi saya bingung. Bagaimana saya harus demikian drastis berubah. Pakaian saya sebelumnya jauh dari pakaian syar'i muslimah. Dari dulu saya memang tidak seperti remaja jaman sekarang yang gemar memakai hotpants atau celana lengan pendek dan singlet (kaos tanpa lengan). Tidak... itu sama sekali memang bukan saya. Tapi saya memang masih memakai celana atau rok selutut dan kaos pendek. Pun dalam hal rambut, saya sama sekali belum berjilbab kecuali dalam acara-acara kerohanian. Bagi saya waktu itu, rambut adalah mahkota kebanggaan wanita. Saya sangat 'sayang' pada rambut saya, maka saya mengganti-ganti tatanan rambut ketika ke sekolah. Terkadang saya kepang, kadang saya ikat belakang, tidak jarang saya ikat ke samping ala-ala gadis desa, sering juga saya memakai bandana, dan yang paling saya gemari adalah rambut terurai (aahh... bodohnya saya di masa remaja itu, sungguh saya sesali). Kala itu saya jadi bingung, saya tidak punya seragam lengan panjang. Saya tidak punya banyak koleksi jilbab. Saya juga tidak punya banyak baju/celana panjang untuk digunakan sehari-hari di rumah. Lalu bagaimana? Untuk membeli banyak baju dan jilbab serta menjahitkan seragam saya tidak punya cukup tabungan. Untuk meminta orang tua, saya tahu pun itu tak akan tercukupkan. Maka saya konsultasikan lagi kepada guru PAI saya. Singkat sekali tanggapan beliau, "Islam itu agama yang sederhana, Allah tidak akan mempersulit umat-Nya." Masih bingung dengan tanggapan beliau, saya 'curhat' ke beberapa teman dekat saya. Alhamdulillah, benar kata pak Hajali. Allah mempermudah niat baik umat-Nya. Teman saya yang lulusan pondok pesantren dan sudah dari SMP berhijab, menawarkan saya beberapa seragam-seragamnya yang sudah kekecilan dan tidak terpakai. Maklum, saya berpostur kecil dan pendek sedangkan dia berpostur tinggi.

Bahagia tidak terkira saya utarakan niat yang sudah bulat kepada ibu dan bapak, tentu saja mereka mendukung. Sungguh syukur alhamdulillah. Allah memudahkan saya. Sejak saat itu secara bertahap saya berubah penampilan, berproses untuk berhijab syar'i, bahkan hingga sekarang

Awalnya, sambil melengkapi seragam 'baru' saya yang masih kurang, di rumah saya mulai menutup aurat dengan berpakaian serba panjang. Kalaupun masih pakai kaos pendek, saya pakai jaket/sweater saja, walaupun belum berjilbab. Saya tidak lagi pakai celana/rok selutut, tapi celana panjang hingga tumit.

Jilbab untuk seragam sudah siap, di rumah pun sudah mulai berhijab, namun seragam saya kurang satu: atasan pramuka lengan panjang. Akhirnya setelah liburan semester genap, saya nekat mulai berhijab ke sekolah. Atasan pramuka tetap lengan pendek. Tapi saya atasi dengan memakai sweater tiap Jumat-Sabtu. Taraaa... tidak kelihatan kan  Hingga pernah suatu kali, Jum'at pagi ada razia guru tatib sekolah. Segala kelengkapan atribut seragam diperiksa mulai dari topi hingga sepatu. Beliau menegur saya, "Lepas jaketnya? Ndak sakit kok jaketan terus! Jangan membuat saya menyangka yang tidak tidak." Saya tegang, harus menjawab apa. Dan dengan lirih saya adukan ke beliau dengan jujur bahwa saya memakai lengan pendek. Beliau setengah tidak percaya, "Alasan!" Maka saya jawab dengan pertanyaan: "Pak, haruskah saya tidak jadi berhijab hanya karena saya tidak punya seragam??" Beliau tanpa kata pergi memeriksa siswa lain. Artinya saya diampuni. Alhamdulillah. Satu lagi bukti bahwa Allah tidak pernah mempersulit hamba-Nya.

Satu tahun terakhir di SMA, saya terus sambil berbenah. Mulai dari berhijab tapi pakaian masih ketat dan pakai celana, lalu mulai memakai yang lebih longgar dan tidak memakai celana jeans, setelah itu di akhir-akhir mulai memakai rok. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya lebih nyaman memakai rok daripada celana. Saya pun menyadari, sampai sekarang cara berpakaian saya masih harus terus diperbaiki. Yang jelas, saya bersyukur telah berani memulai. Karena TANPA MEMULAI, SAYA TIDAK AKAN BERPROSES sampai sejauh ini. Kau tidak akan berjalan jauh tanpa memulai SATU LANGKAH. 

*special thanking untuk Pak Hajali yang telah menjadi jalan perantara hidayah Allah bagi saya, yang membukakan hati dan menguatkan niat awal saya.

Teman-teman dan sahabatku, meskipun ini aib lamaku, aku tidak segan berbagi. Ambillah ibrah (pelajaran) dari pengalamanku. Aku menyayangimu sebagai saudara seiman. Semoga catatan kecil ini mengantarmu pada pencerahan hati dan pikiranmu serta menyibak keraguanmu untuk menegakkan syariat Islam, agamamu. YUK BERHIJAB 
Saudari seimanku, catatan ini akan menjadi sia-sia kecuali jika kau mengindahkannya. Dengan apa? Dengan membuka hatimu sendiri untuk menerima ibrah di dalamnya. Sebab, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka merubah nasibnya sendiri.

YOU HAVE CHOICE AND IT'S YOUR RIGHT TO CHOOSE.
Keputusan ada di tanganmu. Putuskanlah yang terbaik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.

Semoga bermanfaat
@DwisRiyuka
Jangan sampai KAIN KAFAN menjadi hijab kita yang pertama dan terakhir.
Naudzubillah...


Jangan jadikan pekerjaan sebagai alasan. Udah berhijab aja!


Kenapa masih takut? Kenapa masih ragu?
Apapun kesulitanmu, yakinlah
 Allah pasti akan mempermudah niat mulia umat-Nya.
Aurat wanita itu seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan.
Buruan tutup aurat kamu sebelum menyesal 'Kenapa gak dari dulu?'
Introspeksi selalu. Sudah tahap berapa nih perubahanmu?
Udah berjilbab sih. Tapi ternyata ada cara berjilbab
yang kurang benar sesuai syariat.
Yuk kita hindari berhijab model menyerupai 'punuk unta'



Sudah berjilbab belum berarti sudah sempurna kan??
Hindari ini yang untuk menyempurnakan.
INGAT, jilbab bukan tren fashion!



Rambutnya panjang ya, Ukh?
Yasudah... caranya kayak gini aja biar gak menyerupai punuk onta


Singkatnya, terus perbaiki diri, hingga syar'i


































Kita yang sudah berhijab belum berarti sudah sempurna.
Yuk kita koreksi diri dan luruskan niat untuk
menyempurnakan. Terapkan checklist ini :)