Senin, 15 September 2014

TERIMA KASIH [ulang tahun 2014]


Kepada saudara kepada kawan, assalamu'alaikum ^_^
Segala salam dan doa-doa darimu semoga terangkum
Telah kuamini dengan khidmat nan santun
Semoga kepadamu pula doa-doa itu terhimpun

Doamu menggenggam beribu arti
Maka sebisa mungkin satu persatu kubalasi, kuamini
Maaf bila saja masih ada yang terlewatkan
Akulah manusia menua yang dianugerahi kekurangan

Sahabat, demi tahun demi hari bahkan demi detiknya
Berkurang selalu usia kita
Mari kembali menengadah tangan, merangkai doa
Semoga kita masih dipertemukan dengan ulang tahun berikutnya

Jogja, 14 September 2014

Sabtu, 13 September 2014

TERIMA KASIH ENGKAU PERGI

Terima kasih telah  memilihnya dan pergi meninggalkanku. Justru setelah kepergianmu aku mendapatkan jawaban-jawaban dari banyak pertanyaanku. Maaf, bukan karena tak lagi ada rasa sayang di hati, bukan berarti rasa sayang ini otomatis sudah pergi bersama kepergianmu, sampai saat aku menulis ini aku masih setengah rela bahwa kau pergi, tapi bukankah tiada salah jika aku mensyukuri apa-apa yang mampu membuka mata hati.

Bersama denganmu, nyaris tepat 19 bulan lamanya, berbagai tanya berkecamuk. Namun aku tak pernah menanyakannya padamu. Aku hanya memperhatikanmu, tingkahmu, perkataanmu, ekspresi wajahmu, sambil berharap aku menemukan jawaban-jawaban itu dari pengamatanku.

Dan kini, justru setelah kau pergi, aku merasa pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, meski beberapa mengundang sisa pertanyaan berkelanjutan. Seandainya kau membaca, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa.

This entry was posted in

Kamis, 11 September 2014

Selasa, 09 September 2014

IKHLAS vs RELA, karena mereka BERBEDA

Bedanya IKHLAS dan RELA itu apa?

Ikhlas itu penerimaan untuk melakukan DEMI Allah, tulus.
Misal berpuasa dengan ikhlas, shalatnya juga harus ikhlas, membantu orang tua dengan ikhlas, intinya semuanya karena Allah...

Kalau rela itu penerimaan untuk yang tentang makhluk, selain dari demi Allah.
Misalkan saat kehilangan sesuatu ya direlakan saja, bukan diikhlaskan  Rela nunggu antrian BBM (bukan demi Allah kan? demi kepentingan dan kebutuhan sendiri), rela berkorban bukan ikhlas berkorban (berkorbannya kebanyakan demi selain Allah kan? demi makhluk kan? Demi bapak, demi ibu, demi adik, demi orang yang disayang, dll), rela menunggu bukan ikhlas menunggu (yang ditungguin orang kan?)

Terimakasih ilmunya, bagi yang telah memberitahu saya bahwa IKHLAS dan RELA itu BERBEDA
Semoga bermanfaat :) Mohon dikoreksi bila masih ada yang salah.

TEGA MEMBUANG

Terkadang kita harus TEGA MEMBUANG agar sesuatu yang tidak lagi penting tidak hanya memenuhi saja, harus TEGA MEMBUANG agar ada tempat untuk sesuatu yang baru.

Semisal ada barang-barang lama, bukankah tidak jarang ada pikiran-pikiran "Ah sayang dibuang, siapa tahu nanti bisa dipakai lagi", atau "Hmm... aku masih suka barang ini. Jangan dibuang dulu lah", atau juga "barang ini sangat berarti, biarpun rusak biar saja tetap ditaruh sini" dan pikiran-pikiran lainnya yang sering menyayangkan untuk membuang 'sampah'. Hasilnya gudang penuh. Bahkan selain gudang pun penuh.

Begitu juga dengan hati, kita harus TEGA MEMBUANG perasaan-perasaan negatif ataupun perasaan-perasaan lain yang sudah tidak diperlukan daripada menjadi 'sampah' hati lho. Buang saja SAMPAH-SAMPAH HATI seperti rasa benci, rasa khawatir, rasa sayang yang tidak perlu, rasa rindu yang tidak sepantasnya, rasa kecewa, rasa iri, rasa marah, rasa minder, dan sebagainya agar perasaan-perasaan lain yang lebih bermanfaat dapat mengisi hati dan lebih menentramkan mendamaikan.

Ingat, untuk hal-hal semacam ini, TEGALAH!!!

Sabtu, 23 Agustus 2014

Sajak DUATIGA : DUATIGA

Sajak "DUATIGA:DUATIGA"

"23:23." kata si penanda waktu
"Lalu apa maumu?" begitu jawabku

Tak ada istimewa di angka kembar macam itu
Meski banyak yg menyakralkannya
Seolah ia memiikul peruntungan berjuta-juta
Bahkan mereka pejam mata lalu berdoa
Meminta ini itu seperti saat melihat bintang jatuh saja

Ah... keduanya semu saja
Keduanya tak perlu dipercaya
Jika kau mau mendoa
Bersujudlah lima kali dalam seharinya
Juga di sepertiga malam terakhir-Nya

Ah... 23:23 sama saja dengan 03:03
Sama pula dengan jam dan menit kembar lainnya

#DR | 21 Agustus 2014

MELUPAKAN -- Tere Liye

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?