Jumat, 07 November 2014

Yang Penting HALAL

"Ikhlas bagi Anda, HALAL bagi kami," begitulah pengamen itu menutup narasi singkatnya usai menyanyi.
Dan kalimat itu memang memperlihatkan ideologi mereka yang mencari rejeki dengan profesi apapun YANG PENTING HALAL. Mereka lebih memilih berPANJANG suara, daripada berPANJANG TANGAN (::mencuri). Mungkin mereka memang dianggap tidak berpendidikan, tapi mereka lebih bermoral daripada orang-orang berpendidikan yang tidak memperdulikan halal-haram’nya rejeki yang diperolehnya. Jika semua insan (apalagi para muslim) berideologi sama, mungkin takkan ada pencuri, koruptor, maling, copet, dsb.
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." [QS. Al-Baqarah:168]

MISKOM

Sebagai pemberi pesan, seringkali kita salah bicara, menggunakan cara yang salah untuk menyampaikan. Sehingga yang terjadi, orang lain salah mengartikan pesan yang ingin kita sampaikan. Dan yang ingin disampaikan gagal tersampaikan.

Dan sebagai penerima pesan, sering pula kita salah paham, mengerti apa yang disampaikan orang lain dengan sempitnya sudut pandang. Sehingga yang terjadi, kita memahami setengah-setengah apa yang mereka maksudkan dan berburuk sangka atas apa yang disampaikan.

Mari belajar untuk menyampaikan pesan dengan tepat dan menerima pesan dengan lebih terbuka.
Mari belajar dari KESALAHAN.

Bacaan: INFERNO - Dan Brown

"Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap NETRAL di saat KRISIS MORAL. Dalam masa berbahaya, tak ada DOSA yang lebih BESAR daripada TETAP DIAM."


Prolog menawan dan menantang. Semakin terbius untuk melahap halaman demi halaman. Ya, quotes itu memang ada benarnya, hmm… banyak benarnya. Kenapa?

Kamis, 06 November 2014

Selasa, 04 November 2014

Selembar Sajadah Biru

Sumber: lampuislam.blogspot.com (edited)
Selembar sajadah biru
tanpa bungkus berwarna warna
Sederhana saja
hanya berbalut lantunan doa
bagiku betapa lebih bermakna

Sebab
Saat kukira semua sudah tak peduli dan lupa
Saat momen itu terlewatkan begitu saja
Sajadah biru darimu dan mereka
mengusir segala buruk sangka
dan terima kasihku menjadi tak terkata

Kini sajadah biru terbentang
menemani shalatku malam pun siang
Sajadah biru menjadi alas sembahyang
menyamankan sujudku pada Pemilik Kehidupan

Kepada-Nya, di atas sajadah biru itu
kudoakan mereka, kuadukan namamu



Minggu, 02 November 2014

Sembilan Alasan

Ingat, dari SEMUA orang yang bisa menulis, TIDAK semuanya bisa disebut PENULIS.

Satu saja pertanyaannya:
Mengapa kita harus menulis?
Ada sembilan alasan:

Bukan Dia yang Menyakiti


Suatu kali...
Seorang teman: "Mau ke mana?"
Aku                : "Mau cari buku untuk kado pernikahan...."
Seorang teman: "Kemarin masih ngurusin bisnisnya, sekarang pakai cari kado pernikahnya segala. Kenapa sih kamu masih melakukan ini itu untuk orang yang sudah menyakiti hatimu?"
Aku                : tersenyum "Dia tidak menyakiti hatiku. Dia hanyalah perantara Allah untuk memberitahuku bagaimana rasanya sakit hati, hmmm mungkin agar aku tidak menyakiti hati orang lain."

Benar kan? Kita tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan. Mungkin kita belum menjadi orang yang cukup baik. Tapi lakukan saja kebaikan. Seberapa sakit yang pernah kita rasakan, bukankah dia pun pernah melakukan kebaikan kepada kita? Tidak seharusnya kita melupakan banyak kebaikan hanya karena satu kesalahan fatal.

Memang memaafkan kesalahan itu tidak mudah, tapi memaafkan masih lebih mudah daripada melupakan kesalahan itu sendiri. Mengapa? Karena saat teringat akan kesalahan, kita sering lupa jika kita telah memutuskan untuk memaafkan. Sehingga rasa sakit kembali muncul, meski sudah memaafkan. Saat rasa sakit itu muncul, ingat saja keputusan kita telah memaafkan. Ingat Allah. Ingat bahwa semua telah ditata dan diatur sedemikian rupa. Maka kau menyadari bahwa itu artinya bukan dia menyakiti hati. Dia hanyalah perantara Allah untuk memberitahu bagaimana rasanya sakit hati, mungkin agar kita tidak menyakiti hati orang lain. Lalu tersenyumlah, karena kau berhasil mengalahkan sang amarah.