Kita selalu bisa tahu, apakah seseorang yang berada di dekat
kita merasa nyaman dengan keberadaan kita atau justru menganggap kita sebagai
gangguan. Demikian pula orang yang kita ajak bicara. Mereka memberi isyarat
dengan tanda dengan bahasa tubuhnya untuk mengungkap ketidaknyamanan itu. Kita
selalu bisa menangkap gejala-gejalanya.
Tetapi bagaimana dengan peran sebaliknya? Apakah kita juga pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang di dekat kita, atau dalam kehidupan ini? Jawabnya tentu pernah.
Pertanyaan selanjutnya adalah; dari mana perasaan tak nyaman yang kita alami ketika berhadapan dengan orang? Pada umumya kita bisa menjawab dalam dua sisi; bisa dari mereka, dan bisa juga dari diri kita sendiri. Kebanyakan orang lebih merasakan yang kedua (dari diri mereka sendiri), karena ada ketidaknyamanan yang zhahir sifatnya.Tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, kerdil dan tak pantas berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat perbuatan yang kita lakukan. Bukan hanya kita yang merasakannya sendiri dan makin lama orang-orang yang berada di sekitar kita juga akan merasakannya. Memahami keadaan-keadaan itu, kita menemukan sebuah kaidah penting. Bahwa merasa nyaman dengan diri kita sendiri, akan membantu orang lain untuk bisa merasa nyaman atas keberadaan kita di dekatnya. Tentu saja dalam hal yang zhahir, kita memang perlu untuk memperbaiki penampilan kita sehingga kita percaya diri dan merasa nyaman berhadapan dengan sesama. Dalam hal batin, hati pun harus kita percantik agar diri kita merasa nyaman saat berhadapan dengan saudara-saudara tercinta. Sesudah itu, sahabati nurani kita dengan nasehat tulus dari saudara-saudara yang mencintai kita karena Allah. Maka rasa nyaman pada diri pun hadir, hingga mereka juga merasa nyaman dengan keberadaaan kita.
Rasulullah bersabda, “Orang mukmin itu mudah akrab dan gampang didekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tak mudah dekat dan sulit diakrabi.”
Tetapi bagaimana dengan peran sebaliknya? Apakah kita juga pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang di dekat kita, atau dalam kehidupan ini? Jawabnya tentu pernah.
Pertanyaan selanjutnya adalah; dari mana perasaan tak nyaman yang kita alami ketika berhadapan dengan orang? Pada umumya kita bisa menjawab dalam dua sisi; bisa dari mereka, dan bisa juga dari diri kita sendiri. Kebanyakan orang lebih merasakan yang kedua (dari diri mereka sendiri), karena ada ketidaknyamanan yang zhahir sifatnya.Tapi ada yang jauh lebih menghalangi kedekatan dibanding ketidaknyamanan zhahir. Ialah ketidaknyamanan batin terhadap diri kita sendiri. Kita merasa kotor, kerdil dan tak pantas berhadapan dengan saudara seiman. Kita merasa terputus dari ikatan cinta dengan mereka akibat perbuatan yang kita lakukan. Bukan hanya kita yang merasakannya sendiri dan makin lama orang-orang yang berada di sekitar kita juga akan merasakannya. Memahami keadaan-keadaan itu, kita menemukan sebuah kaidah penting. Bahwa merasa nyaman dengan diri kita sendiri, akan membantu orang lain untuk bisa merasa nyaman atas keberadaan kita di dekatnya. Tentu saja dalam hal yang zhahir, kita memang perlu untuk memperbaiki penampilan kita sehingga kita percaya diri dan merasa nyaman berhadapan dengan sesama. Dalam hal batin, hati pun harus kita percantik agar diri kita merasa nyaman saat berhadapan dengan saudara-saudara tercinta. Sesudah itu, sahabati nurani kita dengan nasehat tulus dari saudara-saudara yang mencintai kita karena Allah. Maka rasa nyaman pada diri pun hadir, hingga mereka juga merasa nyaman dengan keberadaaan kita.
Rasulullah bersabda, “Orang mukmin itu mudah akrab dan gampang didekati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tak mudah dekat dan sulit diakrabi.”




