Rabu, 12 Februari 2014

MENYINGKIRLAH RAGU, PERUBAHAN BUTUH AWALAN

 YUK BERHIJAB, YUK BERUBAH (menjadi lebih baik)

Bagi sahabat dan kawan-kawan muslimahku yang belum berhijab [tidak perlu saya sebutkan satu per satu], yuk jangan ragu memulai, jangan ragu untuk berubah. Apalagi untuk berubah menjadi lebih baik, insyaAllah.

Saya pun juga mengalami fase seperti yang kalian alami ketika SMA. Tapi setelah melaksanakan kewajiban ini, saya menyesal. Menyesali kebodohan saya yang tidak menyegerakan kewajiban ini. Jadi sebaiknya teman-teman mengakhiri fase keraguan itu 

Sedikit berbagi, sebelum saya memakai hijab di kelas 3 SMA, saya pun dilanda ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang ternyata tidak terbukti.

Saya ragu, dan cemas. Waktu itu pemakai hijab belum semarak sekarang ini. Di lingkungan rumah saya dan pada waktu itu, jilbab belum menjadi 'fashion'  . Dalam mindset masyarakat (menurut saya pada waktu itu), wanita yang berhijab pasti mereka yang memiliki pengetahuan dan ilmu agama yang dalam. Itu yang menyebabkan saya ragu. Saya merasa belum pantas memakainya. Alhamdulillah guru PAI baru saya yang bernama Pak Hajali (pindahan dari Kalimantan) dihadirkan oleh Allah pada saat yang tepat. Beliau menyadarkan saya bahwa berhijab adalah kewajiban, tidak peduli berapa dalam ilmu keislaman yang kau miliki. Beliau bacakan ayat suci Al-Qur'an (yang pada waktu itu memang saya baca, namun belum saya pahami benar isinya) tentang QS.An-Nur:31, QS.AL AHZAB:59, QS.Al-Ahzab:36 (cari dan baca sendiri ya, supaya lebih meresapi dengan usaha sendiri), dan ayat-ayat pendukung lain. "Kalaupun kamu masih banyak dosa dan melakukan kejahilan dalam beragama, maka setidaknya kau telah melaksanakan kewajibanmu sebagai muslimah, yaitu berhijab," begitu jawab beliau waktu saya menyampaikan alasan keraguan saya. Dan horizon saya mulai terbuka, hati saya mulai bergetar, saya pun meragukan keraguan saya. Saya mulai ingin memakai jilbab. Saya ingin menjadi muslimah yang seharusnya. Meski niat telah tertanam akhirnya, saya tidak bisa serta merta berubah.

Saya masih takut, khawatir. Bagaimana jika saya dicemooh oleh teman-teman? Bagaimana jika saya digunjing tetangga bahwa jilbab hanya saya jadikan kedok? (Karena pada waktu itu saya tidak se-'alim' mereka yang sudah berhijab dari awal, yang lulusan pesantren atau sekolah berbasis Islam). Maka kembali saya berkesah pada guru PAI saya. Dan jawaban beliau: "Lebih takut mana kamu sama Allah atau tetangga dan kawan2mu? Lebih takut mana kamu sama Sang Pencipta atau makhluk ciptaan-Nya? Lebih takut mana kamu dikucilkan oleh teman sepermainan atau dikucilkan dari surga Allah?" Saya terdiam, berpikir dan merenung. Benar, saya seharusnya lebih takut pada Rabb Maha Pencipta yang memiliki saya. Keinginan itu menguat, namun lagi-lagi saya tidak bisa serta merta berubah.

Saya tidak lagi ragu, tidak lagi cemas, tidak lagi khawatir dan takut. Tapi saya bingung. Bagaimana saya harus demikian drastis berubah. Pakaian saya sebelumnya jauh dari pakaian syar'i muslimah. Dari dulu saya memang tidak seperti remaja jaman sekarang yang gemar memakai hotpants atau celana lengan pendek dan singlet (kaos tanpa lengan). Tidak... itu sama sekali memang bukan saya. Tapi saya memang masih memakai celana atau rok selutut dan kaos pendek. Pun dalam hal rambut, saya sama sekali belum berjilbab kecuali dalam acara-acara kerohanian. Bagi saya waktu itu, rambut adalah mahkota kebanggaan wanita. Saya sangat 'sayang' pada rambut saya, maka saya mengganti-ganti tatanan rambut ketika ke sekolah. Terkadang saya kepang, kadang saya ikat belakang, tidak jarang saya ikat ke samping ala-ala gadis desa, sering juga saya memakai bandana, dan yang paling saya gemari adalah rambut terurai (aahh... bodohnya saya di masa remaja itu, sungguh saya sesali). Kala itu saya jadi bingung, saya tidak punya seragam lengan panjang. Saya tidak punya banyak koleksi jilbab. Saya juga tidak punya banyak baju/celana panjang untuk digunakan sehari-hari di rumah. Lalu bagaimana? Untuk membeli banyak baju dan jilbab serta menjahitkan seragam saya tidak punya cukup tabungan. Untuk meminta orang tua, saya tahu pun itu tak akan tercukupkan. Maka saya konsultasikan lagi kepada guru PAI saya. Singkat sekali tanggapan beliau, "Islam itu agama yang sederhana, Allah tidak akan mempersulit umat-Nya." Masih bingung dengan tanggapan beliau, saya 'curhat' ke beberapa teman dekat saya. Alhamdulillah, benar kata pak Hajali. Allah mempermudah niat baik umat-Nya. Teman saya yang lulusan pondok pesantren dan sudah dari SMP berhijab, menawarkan saya beberapa seragam-seragamnya yang sudah kekecilan dan tidak terpakai. Maklum, saya berpostur kecil dan pendek sedangkan dia berpostur tinggi.

Bahagia tidak terkira saya utarakan niat yang sudah bulat kepada ibu dan bapak, tentu saja mereka mendukung. Sungguh syukur alhamdulillah. Allah memudahkan saya. Sejak saat itu secara bertahap saya berubah penampilan, berproses untuk berhijab syar'i, bahkan hingga sekarang

Awalnya, sambil melengkapi seragam 'baru' saya yang masih kurang, di rumah saya mulai menutup aurat dengan berpakaian serba panjang. Kalaupun masih pakai kaos pendek, saya pakai jaket/sweater saja, walaupun belum berjilbab. Saya tidak lagi pakai celana/rok selutut, tapi celana panjang hingga tumit.

Jilbab untuk seragam sudah siap, di rumah pun sudah mulai berhijab, namun seragam saya kurang satu: atasan pramuka lengan panjang. Akhirnya setelah liburan semester genap, saya nekat mulai berhijab ke sekolah. Atasan pramuka tetap lengan pendek. Tapi saya atasi dengan memakai sweater tiap Jumat-Sabtu. Taraaa... tidak kelihatan kan  Hingga pernah suatu kali, Jum'at pagi ada razia guru tatib sekolah. Segala kelengkapan atribut seragam diperiksa mulai dari topi hingga sepatu. Beliau menegur saya, "Lepas jaketnya? Ndak sakit kok jaketan terus! Jangan membuat saya menyangka yang tidak tidak." Saya tegang, harus menjawab apa. Dan dengan lirih saya adukan ke beliau dengan jujur bahwa saya memakai lengan pendek. Beliau setengah tidak percaya, "Alasan!" Maka saya jawab dengan pertanyaan: "Pak, haruskah saya tidak jadi berhijab hanya karena saya tidak punya seragam??" Beliau tanpa kata pergi memeriksa siswa lain. Artinya saya diampuni. Alhamdulillah. Satu lagi bukti bahwa Allah tidak pernah mempersulit hamba-Nya.

Satu tahun terakhir di SMA, saya terus sambil berbenah. Mulai dari berhijab tapi pakaian masih ketat dan pakai celana, lalu mulai memakai yang lebih longgar dan tidak memakai celana jeans, setelah itu di akhir-akhir mulai memakai rok. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya lebih nyaman memakai rok daripada celana. Saya pun menyadari, sampai sekarang cara berpakaian saya masih harus terus diperbaiki. Yang jelas, saya bersyukur telah berani memulai. Karena TANPA MEMULAI, SAYA TIDAK AKAN BERPROSES sampai sejauh ini. Kau tidak akan berjalan jauh tanpa memulai SATU LANGKAH. 

*special thanking untuk Pak Hajali yang telah menjadi jalan perantara hidayah Allah bagi saya, yang membukakan hati dan menguatkan niat awal saya.

Teman-teman dan sahabatku, meskipun ini aib lamaku, aku tidak segan berbagi. Ambillah ibrah (pelajaran) dari pengalamanku. Aku menyayangimu sebagai saudara seiman. Semoga catatan kecil ini mengantarmu pada pencerahan hati dan pikiranmu serta menyibak keraguanmu untuk menegakkan syariat Islam, agamamu. YUK BERHIJAB 
Saudari seimanku, catatan ini akan menjadi sia-sia kecuali jika kau mengindahkannya. Dengan apa? Dengan membuka hatimu sendiri untuk menerima ibrah di dalamnya. Sebab, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka merubah nasibnya sendiri.

YOU HAVE CHOICE AND IT'S YOUR RIGHT TO CHOOSE.
Keputusan ada di tanganmu. Putuskanlah yang terbaik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.

Semoga bermanfaat
@DwisRiyuka
Jangan sampai KAIN KAFAN menjadi hijab kita yang pertama dan terakhir.
Naudzubillah...


Jangan jadikan pekerjaan sebagai alasan. Udah berhijab aja!


Kenapa masih takut? Kenapa masih ragu?
Apapun kesulitanmu, yakinlah
 Allah pasti akan mempermudah niat mulia umat-Nya.
Aurat wanita itu seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan.
Buruan tutup aurat kamu sebelum menyesal 'Kenapa gak dari dulu?'
Introspeksi selalu. Sudah tahap berapa nih perubahanmu?
Udah berjilbab sih. Tapi ternyata ada cara berjilbab
yang kurang benar sesuai syariat.
Yuk kita hindari berhijab model menyerupai 'punuk unta'



Sudah berjilbab belum berarti sudah sempurna kan??
Hindari ini yang untuk menyempurnakan.
INGAT, jilbab bukan tren fashion!



Rambutnya panjang ya, Ukh?
Yasudah... caranya kayak gini aja biar gak menyerupai punuk onta


Singkatnya, terus perbaiki diri, hingga syar'i


































Kita yang sudah berhijab belum berarti sudah sempurna.
Yuk kita koreksi diri dan luruskan niat untuk
menyempurnakan. Terapkan checklist ini :)

Sabtu, 18 Januari 2014

Yang Sedikit pun Nikmat

Bukan tentang seberapa besar yang kau dapatkan
Mungkin kawan-kawan di sana memang bisa lebih hebat sekarang
Kau pun bisa
Hanya saja kau harus dari awal memulainya
Nikmatilah proses itu karena kau memang harus melewatinya
Seperti kau harus melewati jembatan untuk menuju seberang
Kau memang harus merasakan hal-hal seperti ini juga

Sederhana, setidaknya dirimu sendirilah yang bangga berdiri di sana
Kelak, kau bisa menjadi seperti kawan-kawan lainnya
Berproseslah... Berusahalah...
Mimpi-mimpi yang masih berserakan itu, rapikanlah
Tekad yang sering mengendur itu, perbesarlah... Bulatkanlah

Man jadda wajadda
Bismillah... (^_^)J


Bagian yang tak terlewatkan:
prosesi pengabadian kenangan saat serah terima hadiah secara simbolis

Selasa, 31 Desember 2013

Terimakasih :)

Malam ini adalah malam deadline pengumpulan Essay Beasiswa Dataprint.
Jadi teringat periode lalu... Alhamdulillah Allah berikan seteguk rizki-Nya di bulan Juli lalu.


Syukur walhamdulillah, nama itu tercantum di urutan ke 23 penerima beasiswa Rp 500.000,00. Terimakasih untuk:

Semoga bermanfaat dan menginspirasi kawan-kawan.
Klik http://beasiswadataprint.com/ untuk melihat ketentuan dan mendaftar.

Minggu, 03 November 2013

Tanyamu di Ujung Dini

Pertanyaan yang sama
Masih saja padaku kau menanyakannya
Jangan kawan, itu tidak seharusnya
Aku telah bersamanya
Pun harusnya kau telah bersama yang lainnya
Jangan mengharapkan yang tak bisa kau harapkan
Jangan memaksakan yang tak bisa kau paksakan
Engkau boleh saja bercita-cita
Tapi janganlah memaksa orang lain mewujudkannya
Aku bukan barang yang diperebutkan untuk dimiliki

Sahabatku, apa engkau mau dicintai secara fana?
Yang sebenarnya aku tak bisa mencintaimu namun menerimamu
Itu akan menyakitkanmu dan aku
Maka biarlah aku dengan kisahku
Mengindahlah engkau dengan kisahmu

(MD 170713)

Jumat, 11 Oktober 2013

Kau Yang Mengutuhkanku


Senja semakin tua ketika kita tiba di kota itu. Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku. Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Matahari Terbit: Untuk Sang Gadis Kota Malang

Thank you my fella (Ninda Arum Rizky Ratnasari) for this post

Matahari Terbit: Untuk Sang Gadis Kota Malang
Dear Dwi Sri Wahyu Amalika aka Dwis Riyuka  Cuyung          
Sedang menangis ya? Hehe Sebelum mulai berkicau, ...
Sebelum mulai berkicau, sedikit kuceritakan “behind the scene” dari balada kenang-kenangan ulang tahun yang terlambat 1 bulan itu. Jadi, sudah jelas sebelumnya bahwa SEHARUSNYA kotak bersampul merah lucu itu sudah kau terima September lalu. Namun, pada saat itu aku juga agak lupa persisnya kenapa rencana untuk “mengerjai”mu seperti layaknya ulang tahun kawan-kawan yang lain selalu menemui kendala untuk dieksekusi. Rencananya sudah matang lho di pikiranku! Sudah ku bayangkan juga buteknya wajahmu kala kau merasa bête karena kubuat kesal, lalu kawan lain datang membawa kue ultah dengan lilin-lilin yang menyala dan lagu Happy Birthday yang bergema. Sungguh aku lupa kenapa rencana yang sudah matang itu buyar! Sepertinya karena padatnya agenda di UKM Penelitian dan pikiranku teralihkan dengan amanah di tempat lain. So sorry dear, I do apologize     

This entry was posted in

Kamis, 10 Oktober 2013

Yang Pertama, Harus Ada yang Seterusnya

Ini bukan yang pertama
Tapi ini juga yang pertama
Bukan pertama kalinya melakukan 'ritual' peraihan juara
Pertama kalinya memeluk sebuah gelar 'juara'
The team mate and me...
How happy we are to be one of the finalist here ^_^
Serasa masih semalam berjalan dalam kereta
Menaiki kendaraan jenis ini untuk pertama kalinya
Dingin... rasanya dingin di dalam sana
Lebih dingin lagi hati yang tegang menunggu kapan sampainya