Rabu, 04 Oktober 2017

Allah Mencintai


Pernah gak sih antara iseng² (yang didukung rasa penasaran atas jawaban dari pertanyaanmu sendiri) trus kamu nyari-nyari? Entah dengan googling, baca buku, baca terjemahan Quran, buka Youtube atau bahkan pakai fitur 'search' di aplikasi Quran digital.

Saya pernah penasaran gimana sih biar kita tuh disayang Allah (itu pas ngerasa jauh sama Dia tapi kangen, maklum lah iman bisa up and down). Akhirnya saya manfaatkan teknologi yang ada. Salah satu aplikasi Al-Quran digital kan bisa nyari keyword yang kita masukkan nih. Saya masukkan aja keyword 'mencintai' untuk mencari jawaban pertanyaan tadi.

Voila! Ini hasilnya.

ALLAH MENCINTAI ORANG-ORANG YANG
❤ mencintai-Nya; cek QS 2: 165 & QS 3: 31
❤ menepati janji & bertaqwa; cek QS 3: 76
❤ bertaqwa & berbuat kebaikan; cek QS 3: 133-134. Bonus rincian bahwa bertaqwa itu ialah yang berinfak, menahan amarah, & memaafkan kesalahan orang lain.
❤ bersabar; cek QS 3: 146
❤ berbuat kebaikan; cek QS 3: 148
❤ bertawakkal; cek QS 3: 159
❤ berlaku adil; cek QS 49: 9 & QS 60: 8
❤ berjuang di jalan Allah dengan barisan yang TERATUR; cek QS 61: 4

Wow! Awesooome!

Tambah ngefans gak sih sama Qur'an? 😍 Tiap mau galau gitu nggak jadi deh, wong ternyata jawabannya udah ada tersedia di the Best Book ever, a must-read one. Pantesan ya, alim ulama gak sempet galau. Udah ngerti kudu ngapain & nyari di mana kalau galau.

So, masih galau? No way deh! Kapok... Hahaha...

FLY!


When you have shoes to walk through this far,
why not finding wings to go any farther?
.
Any way you can do everything under your own steam,
still you need somebody else to reach your dream.
No matter how you can stand on your own two feet,
still you need somebody else to do something beyond your limit.
.
Something that seems easy
but it's not.
Something that you really wish for
but somehow you're too confused to work it out.
Something that you actually can do well
but with partner, you can do it better.
.
COLLABORATION & TEAMWORK are now the two magic words.
.
#selfreminder | DR 20170810

Ode to God


I see the crowd
adore You, My Lord
For the sun stays golden
For it sets in West behind the mountain
For it becomes Your summon

Soon after Your sky turns dark-blue
They get ready to meet You
Tranquilly
Peacefully

Millions prayers evaporate in the air
Fly high beyond Your sky
When the time comes on
Even on someday they won't know
You rain their granted wish down
as falling snow
Some are fast, some are slow.
.
.
.
#DR20170724
📷 Filter: Lo-Fi 50`
📌 Loc: Candi Ijo, Yogyakarta

SUNSET & THE FLYING KITES



Staring at sunset makes me tranquil and gives me time to contemplate. This moment is such a reminder that everything has an end, that our bright life might end with the darkness of mortality, that everyone will face death and we'll be 'the departed' surely. Isn't it so beautiful, the way God gives us a sunset to end our days? Yet, I ask myself: "Will someday I have a beautiful end like this?" An end which let me close my eyes in peace and smile with no worries.
.
And watching those kites floating in the sky makes me recall what Forrest says. "I don't know if we each have a destiny, or if we're all just floating around accidentally on a breeze. But I think, maybe it's both. Maybe both happens at the same time." — Forrest Gump (1994)
.
📌 Loc: Alun-Alun Kidul

            

Senin, 14 Agustus 2017

Pre Order PETRICHOR by Pluviophile


Sebenarnya agak malu mau promo buku sendiri. I was not really confident to know that people read one of mine. Sebab saya menyadari bahwa cerpen yang saya tulis & termuat di buku ini masih jauh dari tulisan yang berkualitas, baik dari segi estetika maupun ide cerita. Masih perlu banyak kritik saran untuk perbaikan & banyak latihan untuk pembiasaan.
.
Tapi dalam buku ini tidak hanya ada tulisan cupu saya. Ada tulisan-tulisan buah karya beberapa penulis lain yang lebih senior dan lebih expert dalam menyampaikan cerita secara indah & sarat makna serta enak dibaca. Maka insyaAllah, tak ada rugi jika kalian membeli & membacanya.
.
Sebagaimana judulnya "PETRICHOR" adalah sekumpulan karya tentang hujan yang kami himpun bersama @squadpluviophile (@lianpriyono, @bagusadisatya, @irkhammaulana1, @hennyalifah, @kanadiea, @abenanza). Di dalamnya ada tulisan berupa cerita pendek, sajak, & puisi, serta ilustrasi. Kami membuka pre-order gelombang pertama sampai 22 Agustus 2017. Harga khusus selama PO hanya Rp 38.000,-. Harga normal Rp 42.000,- Khusus area Jogja, Surabaya, Treanggalek, Malang, & Tulungagung bisa COD. Hubungi CP yang tertera pada poster untuk pemesanan, ongkos kirim, COD, & info selengkapnya.

Semoga bermanfaat! ^_^

Selasa, 25 April 2017

MAJID DI MASJID

   

        "Maling... Maling... Maliiing!"
     Teriak warga berlarian mengejar si tangan panjang. Kencang benar ia. Para warga kewalahan menangkapnya.

      Majid namanya. Pencuri, pencopet, penguntit, penjambret paling profesional di kelompoknya. Dia tak pernah gagal di tiap aksinya. Tidak juga satu atau dua bogem dari warga mendarat di kedua pipinya. Dinginnya bui seperti ujar kawan-kawannya pun tak sekalipun dialaminya. Dialah Majid, kriminal kelas wahid.

     "Wah... Kemana dia?" warga bertanya-tanya.
     "Sudah lolos mungkin saja. Larinya sudah seperti singa," timpal warga lain sembari terengah.
     "Bubar... Bubar... Bilang saja pada si renta itu agar mengikhlaskan. Toh kita tak mungkin mengejar maling seharian. Bubar!" Sergah seorang paruh baya dengan kasar. Mungkin, ia kesal karena gagal.

     Warga berhamburan bubar. Sebagian kembali ke titik awal. Seorang nenek renta tersedu dikelilingi ibu-ibu. Hatinya lebih pilu, dalam tasnya ada uang saku yang ia simpan untuk si cucu. Sejam kemudian, situasi tenang. Cerita sang nenek kemalingan...terlupakan.

     "Berhasil lagi?! Majid, kau memang maling nomor wahid!" puji gerombolan Majid takjub sekaligus bangga.
     Majid hanya menyunggingkan sedikit senyum angkuh sambil menyeka peluh.
     "Kalian ingin tahu selama ini di mana aku sembunyi dari keroyokan massa?" tanya Majid yang hendak membuka rahasia.
     Gerombolannya hanya mengangguk-angguk kepala sambil melotot ke arahnya. Sejak lama mereka menanti Majid angkat bicara tentang kunci keberhasilannya.
     "Di masjid," jawabnya singkat.
     "Kau gila?! Mana mungkin bisa?!" anak buahnya ternganga.

     Majid menjawab santai sambil menghisap cerutunya, "Mudah saja. Di desa itu masjid sepi. Yang nyabanin jarang sekali. Bahkan saat adzan berkumandang, jamaah masjid itu hanya 2-3 orang. Hahaha... Waktu beraksi yang tepat justru ketika jam shalat. Saat 2-3 orang itu sedang khidmat, mereka tak menyadari aku sembunyi di balik almari. Warga pun tak mungkin mencari ke sana & mengira tak mungkin aku berani masuk rumah Tuhan-Nya. Ah... Heran aku pada mereka. Mengapa mereka yang lebih 'suci' dari kita justru enggan masuk sana."

for storialpicstorychallenge
This entry was posted in

Jumat, 21 April 2017

AKU (BUKAN) KARTINI


Bukan, Tuan!
Saya bukan Kartini
Saya adalah saya sendiri

Tidak, Tuan!
Saya tak hendak menyangkal sejarah
Terakuilah Kartini nan dikisahkan dengan megah
Sebagai simbol puan penggugah

Ya, Tuan!
Memang saya pun puan
Namun tak hendak disama-samakan
Beliaulah beliau adanya
Saya adalah saya saja

Dengar, Tuan!
Kartini dan saya hidup di beda zaman
Pun kami berbeda azam
Saya tak lagi menuntut setara
Sebab para puan kini melebihi Tuan pun bisa
Bahkan yang melampaui kodratnya pun ada
Bukan itu, Tuan!
Saya hanya puan jelata tanpa tahta
Mana kuasa mengubah segala-gala sepertinya
Saya hanya puan yang mengubah diri sendiri saja
Setengah mati susahnya

Maka dari itu, Tuan!
Saya hanya hendak menyampaikan pinta
Pada sesama puan seperti saya
Agar tak henti mendalami sebanyak-banyak ilmu
Agar tak membeo kejahilan akhir masa
Agar menyadari kecantikan dirinya
bukan dari bersolek rupa
melainkan salim nuraninya

©DwisRiyuka | 20170421
This entry was posted in